8.06.2014

I know what you feel, bro

Cinta adalah sesuatu yang indah. Hal ini akan selaras dengan sinetron dan FTV selama ini yang aku tonton. Di mana yang berperan sebagai si cewek selalu cantik dan yang cowok sedikit ganteng. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa pada akhirnya dua orang yang memadukasih dapat hidup bersama meskipun harus mengalami serangkaian peristiwa menakjubkan terlebih dahulu. Di mana keduannya diuji kesetiaannya, rasa curiga yang menyelimuti, difitnah oleh orang yang memusuhi, cinta mereka yang tak direstui, atau jalan fiktif lainnya yang mudah diduga. Namun, ajaibnya mereka akan tetap bersama. Endingnya selalu manis. Manis sekali!

Tentu saja hal tersebut berbanding 180 derajat dengan dunia nyata. Cinta akan dipandang sebagai objek yang relatif, bisa menyenangkan atau sebaliknya. Tinggal suasana hati yang menentukan untuk menilai cinta itu seperti apa. Bila suasana hati bahagia maka cinta adalah gula rendah kalori, manis, dan menyehatkan. Tetapi, bila hati dilanda kalut yang berlebihan maka cinta tak lebih dari sebongkah upil yang melayang-layang di semesta, tidak mempunyai arti apa-apa. Ini berlaku bagi pria, wanita, maupun mas-mas yang memegang kecrekan di lampu merah yang make-up-nya setebal aspal.

Problema pria di usia setengah matang tentang cinta adalah masalah serius. Di saat-saat seperti itu kesetengahmatangan mereka benar-benar diuji. Namun, bisa ditebak, hampir semua pria menyelesaikan masalah tersebut dengan tragis. Iya, tragis. T.R.A.G.I.S. (mode emo).

Ada pepatah sejak jaman bahula mengatakan bahwa, “tidak selamanya cinta itu dapat bersama.” Secara eksplisit pepatah itu menjelaskan bahwa apa yang dicintai tidak selamanya dapat dimiliki dan secara implisit, butuh empatbelas gulung tisue toilet ukuran jumbo untuk menjelaskannya. Cukup bijak, bukan? Lalu apa ini hanya tentang sebuah komitmen hati yang telah retak tak berpola saja? Atau hanya sekadar pengalaman yang harus dialamai oleh seorang pria?

Tentu tidak!

Kalau memang hanya tentang bentuk komitmen hati, bukankah seorang pria lebih sering menghancurkannya sendiri? Atau kalau memang hanya sekadar pengalaman, bukankah pria pernah/bahkan sering mengalami kekalutan ini? Seharusnya pria cukup bijaksana untuk menemukan solusi logis mengatasai ini dan tidak perlu jatuh di lubang yang sama berulang kali. Tetapi, sebagaimana seorang pria, yang telanjur tampan, aku menganggapnya ini adalah segalanya. Segalagalagalgalanya. Segalagalgalagalgalagalagalagalagalanya. Uye!

Bagi kalian pria yang tidak diwarisi kekayaan orang tua yang melimpah, yang sekarang masih belum mapan, yang masih berjuang mengisi pundi-pundi tabungan untuk masa depan, yang menjadikan warung kopi adalah tongkrongan tergaul dan ter-update, yang kuliah mendapat gelar mahasiswa purba, yang belum bekerja tapi di e-ktp tertulis sebagai wiraswasta, yang terpesona kata-kata Mario Teguh kemudian dijadikan meme dan diunggah di sosial media lalu di-share kemana-mana, dan yang masih percaya bahwa mimpi indah itu dapat diwujudkan, ingatlah kalian akan mengalamai hal ini: ditinggal nikah oleh wanita yang kalian cintai dengan pria lain. T.R.A.G.I.S. (mode mati)

Dan nasib sial itu pernah dialami oleh teman SMP-ku dulu. Namanya adalah Tangguh. Dia berperawakan ceking, rambut melipis, gigi tak beraturan, dan selalu senyum ke mana-mana. Mirip tokoh Smeagol di trilogi film The Lord of The Rings. Entah dari sisi mana nama Tangguh dapat disandingkan dengan penampilannya.

Baik, abaikan penampilan Tangguh yang berperawakan ceking, rambut melipis, gigi tak beraturan, dan selalu senyum ke mana-mana. Sebuah buku tidak dapat dinilai dari sampulnya, bukan?

Dahulu kala, ketika masa kuliah, Tangguh mempunyai pacar dengan panggilan sayang Boncel (Aku tidak ingin membahas kenapa Tangguh menggunakan kata Boncel sebagai panggilan kesayangannya. Hoek!). Hubungan mereka berjalan selama tiga tahun. Dan selama tiga tahun itu pula mereka bermain “kucing-kucingan” dengan orang tua Boncel. Iya, hubungan mereka tidak direstui. Ada semacam kesepakatan tidak resmi di antara mereka berdua. Setiap Tangguh apel ke rumah Boncel, status hubungan mereka berubah menjadi teman biasa. Tidak lebih. Alasan ini mereka gunakan demi kebaikan hubungan mereka. Tangguh sebagai pria normal tidak mempermasalahkan hal itu. Toh, dia juga masih sebagai mahasiswa, belum mempunyai apa-apa yang patut dibanggakan selain tatanan rambut yang melipis dan senyum ke mana-mana. Tetapi, di balik kekurangannya, tidak mengurangi sedikitpun keseriusan rasa Tangguh terhadap Boncel. Tangguh memperjuangkan hubungan mereka supaya awet dan berharap lanjut ke jenjang yang sakral dalam ikatan sebuah cinta. Meski di dalam hati Tangguh ingin berkata kepada orang tua boncel bahwa, “ini lho pria yang sangat menyayangi putri bapak dan ibu, ini lho pria yang selalu berusaha membuat Boncel bahagia, ini lho pria yang suatu saat nanti ingin menikahi Boncel.” Tetapi Tangguh tidak mampu mengatakan hal itu dengan alasan “demi kebaikan hubungan mereka.”

Seperti bom waktu, permasalahan ini pun akhirnya meledak. Tangguh yang selama ini setia dan percaya akan Boncel, tanpa disangka, Boncel meminta putus. Alasannya simpel, Boncel sudah tidak ingin bermain “kucing-kucingan” dengan orang tuanya. Selama ini dia merasa telah melakukan kebohongan terhadap orang tuanya. Dan alasan yang lebih klise, Boncel ingin membahagiakan orang tuanya. Iya, membahagiakan orang tuanya dengan cara menerima pria lain yang sesuai kriterianya dengan yang diinginkan oleh orang tua Boncel. Iya, mencari sosok yang menurut orang tuanya mampu membahagiakan Boncel. Dan, iya, seseorang yang asing tiba-tiba datang dan membawa restu orang tua Boncel.

Di sisi lain Tangguh yang mendapat putus(an) sepihak ini hanya mampu mangap, sesekali mengeluarkan lendir dari mulutnya sambil bertanya-tanya tidak jelas.

“Hawe khaya nanyamanya manya kanamaka? Hawe jha jha nta yha khumana grugabha bharuetga huef taokha homajhi natu hakhabhum? Yakhanyaku ghumata nashe ewagrah fa? Hawe....”

Bila diterjemahkan kurang lebih pertanyaannya seperti ini:

“Apa kamu sudah tidak menyayangiku? Lalu apa gunanya perjuangan kita selama ini? Semudah ini, kah? Apa….”

Tangguh hanya mampu bertanya dan bertanya tanpa bisa memberontak. Pertanyaan-pertanyaan yang justru membuatnya semakin tersakiti tanpa sebuah jawaban pasti. Dia tidak habis pikir dengan semua ini. Dan lendir yang keluar dari mulutnya juga keluar dari matanya.

Tangguh menerima kenyataan ini, menjalani rutinitas pahitnya sendiri.

***

Setahun kemudian, aku bertemu dengan Tangguh di sebuah warung kopi tempat kami nongkrong, tergaul dan ter-update. Tangguh sudah dapat mingkem dengan jelas dan tidak mengeluarkan lendir dari mulutnya. Dia sudah terlihat “baik-baik saja,” masih berperawakan ceking, rambut melipis, gigi tak beraturan, dan selalu senyum ke mana-mana.

Seperti biasa dia memesan es milo dan aku secangkir kopi. Dua jam kami mengobrol tentang kenangan. Kenangan masing-masing. Kenangan yang semanis dan sesegar es milo atau sepahit kopi. Kabar terakhir yang kutahu, Boncel memang belum menikah tetapi ranah hubungannya akan menuju ke arah itu. Entah doa macam apa yang dipanjatkan Tangguh ketika teraniaya hingga Tuhan harus menepati janji-Nya.

Dan saat ini…siklus itu mengalutiku.

“Masih belum melupakannya?” tanya Tangguh.

Aku cuma bisa nyengir sambil meneguk kopi yang sebenarnya sudah habis. Pahit!

 “I know what you feel, Bro!” Tangguh memegang pundakku, manggut-manggut sambil memasang senyum ke mana-mana.


Sekarang aku sadar. Di balik penampilannya berperawakan ceking, rambut melipis, gigi tak beraturan, dan selalu senyum ke mana-mana, dia layak menyandang nama Tangguh. Sebuah nama yang layak dimiliki oleh setiap pria tangguh.





NB: Tangguh sekarang masih berjuang untuk menyelesaikan kuliahnya. Semoga dia segera diwisuda. I  know what you feel too, Bro!!!

4 komentar:

apa ya?