Sejak sekian lama, baru kali ini
aku ngedate dengan dia. Aku berusaha
tampil se-cute mungkin. Hampir setengah jam kuhabiskan di depan cermin,
hasilnya…nihil, tidak ada perubahan berarti. Wajahku tetap tampan.
Kami sengaja memilih meja di
dekat jendela agar bisa menikmati warna hujan. Meja segi empat untuk berdua.
Aku dan dia. Ternyata mimpi selama ini menjadi nyata. Dia berada di depan
mataku. Cantik.
“kamu sudah baca?” tanyaku
memecah kekakuan.
Dia berfikir sejenak. Bola bening
matanya menyeripit, seolah mencari ingatan yang terlupakan, “Owh…sudah.
Spesifikasinya yang mana?”
“Yang lollypop” tegasku.
“Ehm…sajak-sajak, perempuan,
status-status yang pernah kamu tulis.”
Aku terkejut, ternyata selama ini
dia memperhatikan akun jejaring sosialku.
“Kamu tahu mengapa gula jawa
sekarang tidak manis? Karena manisnya telah kamu curi.” godaku untuk melihat
senyumnya.
“ahh…itu statusmu yang pernah
kamu tulis di facebook.”
Aku nyengir. Dia benar-benar
memperhatikanku selama ini.
“Kamu terharu, tidak?”, godaku
sekali lagi.
“Kamu hadirkan dia untuk
menggantikanku. Luka ini sudah membeku, tak mencair”, ucapnya yang begitu
spontan tetapi tertahan.
Aku diam. Kupandang matanya.
“sebenarnya saat aku memperkenalkan dia kepadamu kami sudah putus.”
“Tak lama setelah itu kamu memperkenalkan
dia sebagai pacarmu pada temanmu.” Senyumnya berubah.
kuambil ponsel dalam saku. Kuperlihatkan
beberapa pesan singkatnya yang dia kirimkan sebulan lalu.
“kamu masih ingat pesan singkatmu
itu? Kamu menyuruhku meninggalkanmu. Dan sekarang? Aku tidak pernah melewati
garis batas yang kamu buat.”
“karena kamu saat itu menggantung
dua orang. Dan dia yang kamu pilih. Yang
sejujurnya bukan yang seharusnya, kamu ingat pesanmu itu?” tanyanya balik.
“sebagai laki-laki, sejujurnya
aku tidak ingin kehilangan keduanya.”
“dan berbahagialah karena telah
bersama dengan dia. Orang yang tak ingin kamu melepasnya.” Wajahnya berpaling
ke jendela. Melihat hujan yang seolah-olah keluar dari matanya.
“dan sampai saat inipun aku tak
pernah melewati garis batas yang kamu buat”
“karena kamu memang tidak pernah
berkenan masuk ke kawasanku.”
“kamu tahu bagaimana sulitnya
mendapatkan perhatianmu? Tahu? Itu sama sulitnya melupakanmu.” Giliran senyumku
yang berubah.
“dan kamu tahu benar bagaimana
menghancurkan hati wanita.”
“kamu tahu berapa kali hati
laki-laki (tampan) hancur, kemudian disusun kembali, mencoba bertahan dengan
kepingan yang tersisa? Hampir dua tahun…dua tahun, isinya hanya kamu, kamu,
KAMU. Sudah berapa kali kamu runtuhkan?”
“berapa kali kamu dengan orang
selain aku selama dua tahun itu? Berapa kali memintaku dengan resmi, jelas
tegas, bukan lewat tanda, selama dua tahun itu?”
“berulangkali aku menemukan
Amerika kemudian menyakitinya. Kamu tahu karena apa? Aku selalu cerita tentang
Hindia, kamu tahu? Setiap Amerika yang kusinggahi tahu semua tentang Hindia.
Kamu tahu berapa air dalam mata setiap Amerika yang keluar ketika aku bercerita
tentang Hindia? Kamu pasti tahu karena mereka juga wanita, sama sepertimu.”
“dan kamu tahu hancurnya Hindia
saat kamu besama Amerika-amerika?”
“seperti apa? Seperti masa lalumu
kehilangan Vasco da Gama, orang kali pertama yang menemukan Hindia?”
“Lebih sadis.”
Tatapan matanya menusuk
pernapasanku.
“Aku yakin, rasa sayangku padamu
lebih besar daripada rasa sayangmu kepadaku, dan ketika patahpun begitu.”
“Mungkin, karena aku tidak tahu.”
Nada suaranya pelan.
“dan kamu tidak pernah tahu
bagaimana rasanya dibodoh-bodohin oleh teman-temanmu sendiri karena mencintai
seseorang.”
“Hai!”, sanggahnya.
“Apa?”
“sepertinya aku lebih dulu mengalaminya.”
“lebih dulu? Sejak kapan?”
“saat aku mencintai Vasco da
Gama”, tegasnya.
“ya, dan aku saat mencintai
Hindia”, tegasku balik.
“bahkan jauh sebelum kamu
mengenal Hindia.”
Aku menghela nafas, “sebenarnya
kitalah yang lollypop, timbul tenggelam terus menerus kemudian hilang, yang
tersisa tinggal batangnya saja.”
Aku dan dia diam. Hening yang
tercipta sejenak. Pertengkaran ini tak pernah kuduga. Sepertinya dia menantikan
saat ini.
“Dan alam semesta bersekongkol
merelakanmu.”ungkapnya sesak.
“Mengapa nasib selalu tidak
berpihak pada orang yang setia?”
“Tidak semua.”
“Lalu bagaimana dengan mereka
yang tidak dipihaki nasib? Atau bagaimana mereka yang mempunyai perasaan yang
sama tetapi waktu tak pernak memihak?”
Dia berpikir.
“Bertanya padaku sama dengan
bertanya pada batu.”
“sepertinya dari dulu hatimu
membatu untukku.”
“kamu memang tak pernah paham.
Nyatanya kamu masih menilaiku batu.”
“tragisnya, sampai sekarangpun
aku masih mencintai batu.”
“dengan menggandeng bunga.”
“apa maksudmu?”
Dia mendiam.
Kuamati sekitar. Hujan di balik
jendela menyisakan rintik saja. Nafas kuatur sedemikian hingga tidak
mencerminkan suasana organ di dalamnya.
“kamu pernah rindu kepadaku?”,
tanyaku yang mulai tertahan.
“Pernah.”
“pernah kamu mengucapkan sayang
atau sekadar membalas kata cinta kepadaku?”
“tidak pernah aku mengucapkannya
kepadamu.”
“lalu bagaimana aku bisa tahu perasaanmu,
sedang indra perasaku tak peka? Kamu tahu sendiri, aku kaum yang mengandalkan
logika!”
Pandangannya tertunduk. Dia
menyembunyikan sesuatu dibalik matanya yang berkaca.
Sejenak, tak ada kata yang
terselip. Aku memilih diam daripada mengutarakan bentuk risauan hatiku. Aku
menunggunya berbicara. Namun hingga dipenghujung pertemuan dia tidak memilih
kata untuk mewakil rasa, tetapi lewat mata.
Pertemuan yang selama ini
kuimpikan, mengalir begitu saja. Tidak ada beda dengan jeda waktu selama ini
tanpa dia. Dia memilih pergi menghilang bersama hujan yang tinggal sebentar.
Berulang-ulang aku menghela napas. Aku berdiri, sebelum pergi, kuucapkan selamat
ulang tahun untuk diriku sendiri. Dengan berakhirnya pertemuan ini aku berusaha
untuk tidak mengharapkannya (lagi).
Sepuluh menit kemudian aku
kembali. Aku lupa belum bayar.
bang asep.....bagus sekali.....
BalasHapuslucu, mbulet, bingung, apik,
BalasHapusawal yang sedikit menyayat hati
BalasHapuspertengkaran ini terlalu "indah"
BalasHapushayalan itu (secara tak sengaja) sudah menyakiti salah satu objek
BalasHapusobjek atau subjek yang lain?
BalasHapussatu subjek dan dua objek, atau apakah yang satu hanya sebagai pelengkap?
BalasHapuswaaah... ternyata juga update ngeblog... aku follow yo kang... #thumb#
BalasHapusehmmm, aku mw jadi aktrisnya kalo SeCrit ini diadegankan, hahahahaha
BalasHapusCPhtr:syaratnya badan kamu perlu diperbantet dulu
BalasHapus