7.16.2014

ramadhan: ketika bahagia itu masih sangat sederhana


kami para pemuda sebaya di kampung sepakat bahwa bulan ramadhan dahulu lebih menyenangkan dibanding sekarang.

ketika kecil salat tarawih adalah wahana bercanda yang menegangkan. kami selalu mencari sela untuk bercanda tetapi kami juga takut kena marah para jamaah yang lebih senior.


agak larut malam kami berembuk untuk menentukan pohon mangga milik siapa yang buahnya layak kami curi. seingat kami bulan puasa selalu bebarengan dengan musim mangga. 

atau kami membakar kedelai di tengah jalan, diusap-usap dengan sandal kemudian beradu cepat memakannya. 

tidur di masjid adalah jadwal rutin kami. dan kami selalu berharap pabrik roti sebelah masjid berkenan memberi beberapa potong roti untuk kami para kawanan bocah bengal yang selalu kelaparan.

bila tidak dapat tidur maka kami mengambil air wudlu kemudian tadarus dengan volume speaker diatur lirih. sangat lirih. kami tidak ingin mengganggu penduduk kampung karena suara merdu kami. religius sekali.

tepat pukul 3 kami akan menabuh bedug beserta alat-alat ala kadarnya semacam sapu ijuk yang dipukul-pukulkan ke tiang masjid, batu yang dihantam-hantamkan ke lantai teras masjid, atau berteriak sahur sekencang-kencangnya. kami memang bocah tengil yang sangat mulia.

sehabis subuh kami jalan-jalan pagi keliling kampung sembari menyalakan petasan di sana-sini. dan sebelum pulang kami sepakat untuk mengulang rutinitas ini nanti malam. lagi dan lagi.

tidak ada sosial media, ponsel, maupun beban cinta.

-indah. indah sekali-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

apa ya?