Cinta
adalah sesuatu yang indah. Hal ini akan selaras dengan sinetron dan FTV selama
ini yang aku tonton. Di mana yang berperan sebagai si cewek selalu cantik dan
yang cowok sedikit ganteng. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa pada
akhirnya dua orang yang memadukasih dapat hidup bersama meskipun harus
mengalami serangkaian peristiwa menakjubkan terlebih dahulu. Di mana keduannya
diuji kesetiaannya, rasa curiga yang menyelimuti, difitnah oleh orang yang
memusuhi, cinta mereka yang tak direstui, atau jalan fiktif lainnya yang mudah
diduga. Namun, ajaibnya mereka akan tetap bersama. Endingnya selalu manis. Manis
sekali!
Tentu
saja hal tersebut berbanding 180 derajat dengan dunia nyata. Cinta akan
dipandang sebagai objek yang relatif, bisa menyenangkan atau sebaliknya.
Tinggal suasana hati yang menentukan untuk menilai cinta itu seperti apa. Bila
suasana hati bahagia maka cinta adalah gula rendah kalori, manis, dan menyehatkan.
Tetapi, bila hati dilanda kalut yang berlebihan maka cinta tak lebih dari
sebongkah upil yang melayang-layang di semesta, tidak mempunyai arti apa-apa.
Ini berlaku bagi pria, wanita, maupun mas-mas yang memegang kecrekan di lampu
merah yang make-up-nya setebal aspal.
Problema
pria di usia setengah matang tentang cinta adalah masalah serius. Di saat-saat
seperti itu kesetengahmatangan mereka benar-benar diuji. Namun, bisa ditebak,
hampir semua pria menyelesaikan masalah tersebut dengan tragis. Iya, tragis.
T.R.A.G.I.S. (mode emo).
Ada
pepatah sejak jaman bahula mengatakan bahwa, “tidak selamanya cinta itu dapat
bersama.” Secara eksplisit pepatah itu menjelaskan bahwa apa yang dicintai
tidak selamanya dapat dimiliki dan secara implisit, butuh empatbelas gulung
tisue toilet ukuran jumbo untuk menjelaskannya. Cukup bijak, bukan? Lalu apa
ini hanya tentang sebuah komitmen hati yang telah retak tak berpola saja? Atau
hanya sekadar pengalaman yang harus dialamai oleh seorang pria?
Tentu
tidak!
Kalau
memang hanya tentang bentuk komitmen hati, bukankah seorang pria lebih sering
menghancurkannya sendiri? Atau kalau memang hanya sekadar pengalaman, bukankah
pria pernah/bahkan sering mengalami kekalutan ini? Seharusnya pria cukup bijaksana
untuk menemukan solusi logis mengatasai ini dan tidak perlu jatuh di lubang
yang sama berulang kali. Tetapi, sebagaimana seorang pria, yang telanjur tampan,
aku menganggapnya ini adalah segalanya. Segalagalagalgalanya.
Segalagalgalagalgalagalagalagalagalanya. Uye!
Bagi
kalian pria yang tidak diwarisi kekayaan orang tua yang melimpah, yang sekarang
masih belum mapan, yang masih berjuang mengisi pundi-pundi tabungan untuk masa
depan, yang menjadikan warung kopi adalah tongkrongan tergaul dan ter-update,
yang kuliah mendapat gelar mahasiswa purba, yang belum bekerja tapi di e-ktp
tertulis sebagai wiraswasta, yang terpesona kata-kata Mario Teguh kemudian
dijadikan meme dan diunggah di sosial media lalu di-share kemana-mana, dan yang
masih percaya bahwa mimpi indah itu dapat diwujudkan, ingatlah kalian akan
mengalamai hal ini: ditinggal nikah oleh wanita yang kalian cintai dengan pria
lain. T.R.A.G.I.S. (mode mati)
Dan
nasib sial itu pernah dialami oleh teman SMP-ku dulu. Namanya adalah Tangguh.
Dia berperawakan ceking, rambut melipis, gigi tak beraturan, dan selalu senyum
ke mana-mana. Mirip tokoh Smeagol di trilogi film The Lord of The Rings.
Entah dari sisi mana nama Tangguh dapat disandingkan dengan penampilannya.
Baik,
abaikan penampilan Tangguh yang berperawakan ceking, rambut melipis, gigi tak
beraturan, dan selalu senyum ke mana-mana. Sebuah buku tidak dapat dinilai dari
sampulnya, bukan?
Dahulu
kala, ketika masa kuliah, Tangguh mempunyai pacar dengan panggilan sayang
Boncel (Aku tidak ingin membahas kenapa Tangguh menggunakan kata Boncel sebagai
panggilan kesayangannya. Hoek!). Hubungan mereka berjalan selama tiga tahun. Dan
selama tiga tahun itu pula mereka bermain “kucing-kucingan” dengan orang tua
Boncel. Iya, hubungan mereka tidak direstui. Ada semacam kesepakatan tidak
resmi di antara mereka berdua. Setiap Tangguh apel ke rumah Boncel, status
hubungan mereka berubah menjadi teman biasa. Tidak lebih. Alasan ini mereka
gunakan demi kebaikan hubungan mereka. Tangguh sebagai pria normal tidak
mempermasalahkan hal itu. Toh, dia juga masih sebagai mahasiswa, belum
mempunyai apa-apa yang patut dibanggakan selain tatanan rambut yang melipis dan
senyum ke mana-mana. Tetapi, di balik kekurangannya, tidak mengurangi sedikitpun
keseriusan rasa Tangguh terhadap Boncel. Tangguh memperjuangkan hubungan
mereka supaya awet dan berharap lanjut ke jenjang yang sakral dalam ikatan
sebuah cinta. Meski di dalam hati Tangguh ingin berkata kepada orang tua boncel
bahwa, “ini lho pria yang sangat menyayangi putri bapak dan ibu, ini lho pria
yang selalu berusaha membuat Boncel bahagia, ini lho pria yang suatu saat nanti
ingin menikahi Boncel.” Tetapi Tangguh tidak mampu mengatakan hal itu dengan
alasan “demi kebaikan hubungan mereka.”
Seperti
bom waktu, permasalahan ini pun akhirnya meledak. Tangguh yang selama ini setia
dan percaya akan Boncel, tanpa disangka, Boncel meminta putus. Alasannya
simpel, Boncel sudah tidak ingin bermain “kucing-kucingan” dengan orang tuanya.
Selama ini dia merasa telah melakukan kebohongan terhadap orang tuanya. Dan
alasan yang lebih klise, Boncel ingin membahagiakan orang tuanya. Iya,
membahagiakan orang tuanya dengan cara menerima pria lain yang sesuai
kriterianya dengan yang diinginkan oleh orang tua Boncel. Iya, mencari sosok yang
menurut orang tuanya mampu membahagiakan Boncel. Dan, iya, seseorang yang asing
tiba-tiba datang dan membawa restu orang tua Boncel.
Di sisi
lain Tangguh yang mendapat putus(an) sepihak ini hanya mampu mangap, sesekali
mengeluarkan lendir dari mulutnya sambil bertanya-tanya tidak jelas.
“Hawe
khaya nanyamanya manya kanamaka? Hawe jha jha nta yha khumana grugabha
bharuetga huef taokha homajhi natu hakhabhum? Yakhanyaku ghumata nashe ewagrah
fa? Hawe....”
Bila
diterjemahkan kurang lebih pertanyaannya seperti ini:
“Apa
kamu sudah tidak menyayangiku? Lalu apa gunanya perjuangan kita selama ini? Semudah
ini, kah? Apa….”
Tangguh
hanya mampu bertanya dan bertanya tanpa bisa memberontak. Pertanyaan-pertanyaan
yang justru membuatnya semakin tersakiti tanpa sebuah jawaban pasti. Dia tidak
habis pikir dengan semua ini. Dan lendir yang keluar dari mulutnya juga keluar
dari matanya.
Tangguh
menerima kenyataan ini, menjalani rutinitas pahitnya sendiri.
***
Setahun
kemudian, aku bertemu dengan Tangguh di sebuah warung kopi tempat kami
nongkrong, tergaul dan ter-update. Tangguh sudah dapat mingkem dengan
jelas dan tidak mengeluarkan lendir dari mulutnya. Dia sudah terlihat “baik-baik
saja,” masih berperawakan ceking, rambut melipis, gigi tak beraturan, dan
selalu senyum ke mana-mana.
Seperti
biasa dia memesan es milo dan aku secangkir kopi. Dua jam kami mengobrol
tentang kenangan. Kenangan masing-masing. Kenangan yang semanis dan sesegar es
milo atau sepahit kopi. Kabar terakhir yang kutahu, Boncel memang belum menikah
tetapi ranah hubungannya akan menuju ke arah itu. Entah doa macam apa yang
dipanjatkan Tangguh ketika teraniaya hingga Tuhan harus menepati janji-Nya.
Dan saat
ini…siklus itu mengalutiku.
“Masih
belum melupakannya?” tanya Tangguh.
Aku cuma
bisa nyengir sambil meneguk kopi yang sebenarnya sudah habis. Pahit!
“I know what you feel, Bro!” Tangguh memegang
pundakku, manggut-manggut sambil memasang senyum ke mana-mana.
Sekarang
aku sadar. Di balik penampilannya berperawakan ceking, rambut melipis, gigi tak
beraturan, dan selalu senyum ke mana-mana, dia layak menyandang nama Tangguh.
Sebuah nama yang layak dimiliki oleh setiap pria tangguh.
NB:
Tangguh sekarang masih berjuang untuk menyelesaikan kuliahnya. Semoga dia segera
diwisuda. I know what you feel too,
Bro!!!
bro terlanjur tampan..
BalasHapusiya, mas bro...what?
HapusJo Tangguh cakep ga?
BalasHapusmirip smeagoal pokoknya
Hapus