Menjadi guru itu sebenarnya bukanlah
cita-cita utama di negeri ini yang bisa menjamin seseorang bakalan hidup mulia
di masa depan. Percaya atau tidak hal yang dapat diharapkan agar guru hidup
(lumayan) menjanjikan adalah menjadi guru yang berstatus pegawai negeri. Ya,
karena itu sudah pasti.
Kalau
tidak percaya, monggo mengajukan pertanyaan kepada rekan sejawat yang berprofesi
sebagai guru, wal khusus guru honorer. Pasti harapannya ingin diangkat menjadi
guru pegawai negeri. Dengan iming-iming gaji yang sudah lumayan menyejahterakan
dan belum lagi diiming-imingi tunjangan lain-lain.
Kita
masih ingat dengan jelas hiruk pikuk rekrutmen CPNS tahun ini. Memang banyak
formasi guru yang dibutuhkan. Hal itu berbanding lurus dengan jumlah pelamar
yang membeludak. BKN sebenarnya juga sudah membuka jalur khusus golongan K-2
bagi guru honorer yang sekian tahun namanya telah menunggu di long list. Tapi
apa daya pungguk merindukan bulan, kriteria dan hasil tes SKD menambah
kegundahgulanaan para guru honorer.
Problema
guru honorer bukan soal kesejahteraan saja yang masih di bawah upah buruh tetapi,
yang terpenting dan utama, mendidik generasi muda agar cerdas dan mempunyai
akhlakul karimah. Di zaman kekinian yang humanis seperti sekarang, seorang guru
memiliki tantangan yang lebih kompleks lagi. Anak-anak muda sekarang kebanyakan
sudah tidak memiliki sikap tawaduk lagi kepada guru. Orang tua dengan pasrah
dan menuntut agar anaknya bisa pintar sekolah. Bisa mudah kuliah nantinya,
menjadi dokter atau insinyur, dan sukses dunia akhirat. Kalau anaknya salah dan
diberi tindakan tegas dari sekolah kemudian orang tua bakalan mencak-mencak
tidak rela anaknya diinilah diitulah. Hmm.
Saya
masih ingat dulu pas SD kelas 4 waktu pelajaran matematika. Kami disuruh maju
satu-satu untuk hapalan perkalian. Kalau ada yang salah, guru saya tidak
segan-segan mengunakan antena radio yang bisa diodot untuk menyampluk lengan
kami. Sakit, memar, dan malu. Atau pas SMP ketika upacara hari Senin. Guru
olahraga saya pasti keliling di belakang barisan murid dan menyaduki bokong
kami yang sedang cengengesan ketika bendera merah putih dikibarkan. Malah
ketika SMA, ketika puncak-puncaknya masa puber, saya dan beberapa teman pernah
nyentili kerikil sambil jalan jongkok keliling lapangan basket gara-gara buat
konser di dalam kelas pas jam kosong. Kami tidak ada yang protes dan merasa
keberatan dengan konsekuensi itu. Orang tua saya pun malah tertawa bahagia
ketika saya ceritai kalau saya abis dijewer karena tidak memakai sabuk. Mereka
justru mewejangi agar sekolah yang pinter dan disiplin.
Kalau
sekarang metode itu masih diterapkan di sekolah, ya bakalan rame. Bakalan viral.
Kena sumpah serapah para netijen yang mahabenar, digiring ke kantor polisi
untuk dimintai tanda tangan, eh, keterangan, dan yang paling ngeri mati
dikeroyok muridnya sendiri. Entah mati kariernya atau mati dalam artian
sebenarnya. Fenomena yang sudah hampir lazim saat ini. Risiko demi mencerdaskan
anak bangsa yang berakhlakul karimah. Hmm.
Sebenarnya
guru melakukan hal itu bukanlah tindakan kekerasan tetapi bentuk ketegasan.
Pastilah guru sekarang mengerti aturan dan prosedural bagaimana mengajar. Guru
memiliki skill dalam menangani kasus murid dengan berpendagogi. Akan tetapi,
dalam lubuk hati saya setuju bila cara yang “lunak” tidak bisa membuat efek
jera murid, maka perlu tindak ketegasan. Jangan disalahartikan sebagai bentuk
kekesalan, balas dendam, apalagi kekerasan. Ingatlah bahwa guru juga manusia
yang memiiki welas asih, rasa tidak tega, dan kasih sayang sepanjang masa. Ya,
meskipun tidak memungkiri ada saja oknum guru yang menyalahi kewenangannya.
Sepanjang
pengetahuan saya, guru yang sangat kebejan punya murid tawaduk itu adalah Resi
Drona dalam kisah pewayangan Mahabarata dengan lakon Bima Suci. Bagaimana tidak?
Bima langsung melaksanakan titah sang guru untuk mencari tirta perwita yang
konon katanya na’udzubillahi min dzalik risikonya besar sekali. Bima tidak
pernah berpikiran buruk terhadap gurunya. Dia yakin bahwa apa yang diperintahkan
sang guru adalah kebaikan baginya meskipun pada sesi pamitan kepada ibunda
Kunti, yang khawatir akan keselamatan Bima, sempat berujar, “Kalaupun aku mati,
biarlah guruku yang mendapatkan karmanya!” Alangkah syahdu Resi Drona punya
murid Bima.
Mungkin ada
sedikit prespektif yang dilupakan atas cerita tersebut, yaitu keyakinan Resi Drona
bahwa Bima bakalan lulus melewati ujian akhir nasional itu. Resi Drona tahu betul
kemampuan muridnya. Karena sejatinya, seorang gurupun tidak akan menyuruh murid untuk melakukan hal yang di luar kemampuannya.
Ah, seandainya
semua murid seperti Bima. Dan semua guru selayaknnya Resi Drona yang mampu
mencerdaskan anak bangsa dan berakhlakul karimah. Hmmm.
Mudah-mudahan
pas puncak peringatan hari guru kemarin, guru benar-benar mampu menjadi penggerak
perubahan dalam revolusi industri 4.0. Semua tuntutan kesejahteran guru
terpenuhi, khususnya rekan-rekan honorer dan segera diangkat menjadi guru
pegawai negeri (bagi yang masih berharap). Dan mudah-mudahan juga masih
terselip doa tulus agar siswa-siswa kita memiliki sikap tawaduk karena
merekalah yang akan menjadi pelaku revolusi industri ke depannya.
Sedang harapan saya sendiri bisa dibilang cukup ribet.
Guru bisa menjadi sebuah perwujudan cita-cita yang mulia. Bukan menjadi alibi
profesi agar kehidupannya sejahtera. Guru adalah simbol harapan anak-anak. Guru
adalah, konon katanya, profesi yang pertama masuk surga. Kelak mereka akan
bangga dan legowo bisa “dikalahkan” muridnya tanpa harus berharap menjadi
pegawai negeri. Ya meskipun TPG, THR, gaji ke-13, dan pesangon pensiunan yang
ngawe-ngwe ngece menggiurkan. Hmmm.
keren pak
BalasHapusSemoga berbagai guru di Indonesia bisa menjadi lebih sejahtera 🤲😭
BalasHapusmantap
BalasHapus😃👍
BalasHapus