12.10.2012

sepotong tanya


Dulu ketika masih SMA, pernah ada acara bedah buku di sekolah. Aku lupa siapa dan apa buku yang dibedah. Saat itu aku delapan belas tahun. Dan saat itu pula tiga bulan sudah aku putus dengan pacarku. Dan parahnya lagi mantan pacarku juga berada di ruang yang sama, di acara bedah buku. Aneh, nyesek, dan pengen pipis. Acaranya sebenarnya biasa saja, seorang penulis yang berbagi pengalaman dengan peserta bedah buku. Tetapi aku masih ingat ada bagian yang sempat membuat bulu hidungku berdiri. Potongan memori yang masih teringat hingga kini. Mas yang membedah buku melontarkan sebuah pertanyaan kepada kami,

“Pernah jatuh cinta? Pernah? Coba angkat tangan yang merasa pernah jatuh cinta!”

Tidak ada satu pun dari kami yang angkat tangan. Tetapi setiap dari kami semua menahan senyum yang tertimbun malu. Kami hanya saling melirik. Dan iya, saat itu aku melirik dia. Ada rasa sengatan listrik 2080 watt. Nylekit dan menyenangkan. Sesaat kemudian mas yang membedah buku kembali melontarkan pertanyaan,

“iya, kenapa senyum-senyum? Semua pada merasa pernah jatuh cinta, ya?” dan kami tersenyum lagi. “tetapi,” lanjut masnya yang membedah buku, “siapa dari kalian yang pernah dijatuhcintai? Coba angkat tangan yang pernah dijatuhcintai?”

Jleb.

Berbeda dengan ekspresi dari pertanyaan pertama, kami cenderung diam dan seperti merenung. Termasuk aku. Aku melirik dia. Dia juga diam. Aku memnggeleng-geleng kepala. Dan pertanyaan dalam hati itu pun muncul, “sudah delapan belas tahun hidup menghirup udara dengan gratis ini, apa aku pernah dijatuhcintai?” Aku melirik dia sekali lagi. Sakit. Aku dengan setia selama dua tahun menunggunya. Aku yang selalu bercerita tentang dia kepada setiap wanita. Aku yang selama lima belas bulan menjalin komitmen dengannya. Aku yang benar-benar jatuh cinta kepadanya. Tetapi, selama itu pula “apa aku juga dijatuhcintai?” Aku melihat dia lagi. Aku merasa hanya sebuah cemilan di alam semesta. Aku melihatnya lagi. Aku pengen pipis.

Selang tiga tahun berlalu. Aku sudah kuliah dan aku juga sudah bersama pacarku yang sekarang. Aku suka memanggilnya ‘Chaa (bukan merk butiran cokelat yang mirip telur cicak). Dia seorang gadis penyabar dan berhati selembut butiran ice cream.

Pernah, menjelang sore, aku bercanda dengan teman sekelasku. Namanya Ledre. Entah apa mulanya yang kami bicarakan, dengan spontan aku bertanya padanya,

“Pernah pacaran?”, wajah kudekatkan ke arahnya.

“Ya pernahlah, menghina banget, sih” sewotnya.

“Kalau jatuh cinta, pernah?”

“Pernah, emang kenapa?”, selidikinya.

“Umm…kalau dijatuhcintai, pernah?”

Dia tersenyum aneh.
Aku cuma nyengir saja.
Tiba-tiba dia berbalik tanya, “Emang kamu pernah dijatuhcintai?”

Aku menelan ludah, “Umm…mending kamu tanya ke ‘Chaa? Bagaimana?”
Dia tersenyum aneh lagi. Kemudian kami tertawa aneh bersama-sama.

Malamnya di saat aku sudah cuci kaki tangan dan bersiap tidur. Ledre mengirim pesan ke ponselku.

“Tanggung jawab! Gara-gara pertanyaanmu aku kepikiran terus. Aku nggak bisa tidur, tahu!”

Aku tersenyum kecut. Ponsel kugeletakan begitu saja. Aku berusaha memejamkan mata. Dan sepotong tanya itu pun kembali muncul,

 “Apa aku pernah dijatuhcintai?”



2 komentar:

apa ya?