Kamu ingat?
Dulu di awal kita bertemu, aku menolongmu dari dua pria yang hendak
melecehkanmu. Saat itu aku seperti seorang superhero yang menghajar mereka. Tidak
tanggung-tanggung, mereka kubuat babak belur. Hebat, kan? Memang tidak masuk akal,
tubuh tinggiku yang ceking menang atsa dua pria berpawakan preman. Tapi sepertinya
Tuhan begitu merencanakan pertemuan kita dengan cara ini.
Kamu masih ingat, kan
setiap detailnya?
Semenjak saat
itu kita saling bebrbicara lewat pesan. Sejujurnya aku tidak mempunyai rasa
yang aneh padamu. Aku tida berharap apapun karena saat itu aku memiliki
kekasih. Seorang wanita yang jauh berbeda darimu. Dia cantik, cerdas, dan sulit
ditebak. Iya, aku mencintainya. Tapi tiga tahun hubungan kami berhenti ketika
dia memilih pria yang diberikan oleh orang tuanya.
Kamu tahu? Dunia seakan kedap udara. Aku berantakan. Serasa hanya cemilan di alam semesta. Dan aku memintaa maaf atas kerahasiaan tentang hal ini. Aku meminta maaf!
Kamu tahu? Dunia seakan kedap udara. Aku berantakan. Serasa hanya cemilan di alam semesta. Dan aku memintaa maaf atas kerahasiaan tentang hal ini. Aku meminta maaf!
Seperti yang kuduga, kamu datang. Kamu hadir di saat yang tepat. Kamu seperti suster dengan kotak P3K. dengan sigap mengobati luka-lukaku. Dan, iya aku kembali pulih. Aku bangkit dari keterpurukanku. Ketelatenanmu ternyata sanggup mengutuhkan kembali hidupku. Terima kasih. Aku kembali merasakan dunia dipenuhi udara. Mungkin ini yang bernama karma.
Lambat laun
aku meraskan gelagat aneh pada dirimu. Tidak, sejujurnya aku tak pernah
berharap cinta darimu. Aku tidak ingin kamu menjadi singgahanku. Aku tidak
ingin menyakitimu. Bukankah perempuan sebaiknya dicintai? Pasti ada pria lain
yang bisa menawarkanmu kebahagiaan. Jangan aku. Tapi kamu memaksa untuk tetap
mencintaiku. Menanggung resiko yang sudah aku ketahui. Dan aku tidak punya hati
untuk mencintaimu.
Kamu tahu? Setiap mengingat hal ini aku ingin menghajar
diriku seperti aku menghajar dua pria yang dulu hendak melecehkanmu.
Dua puluh
delapan tahun hidup bersamamu itu adalah kebahagiaan yang kuabaikan. Janji-janji
yang kuingkari. Aku sering meninggalkanmu demi kehidupan malam. Tetapi apa yang
kamu lakukan? Justru kamu menyiapkan air hangat ketika aku pulang subuh, memijat
pundakku saat benat-benar kelelahan. Kamu benar-benar telaten mengurus suamimu.
Sedang aku tidak pernah ingat kapan tanggal pernikahan kita.
Kamu tahu? Setiap mengingat
hal itu aku ingin menghajar diriku seperti aku menghajar dua pria yang hendak
melecehkanmu dulu atau sekalian kubunuh saja .
Aku meminta
maaf kepadamu. Aku meminta maaf. Maaf! Aku tahu kamu tulus mencintaiku. Apa perasaanmu
seperti ini yang kamu simpan selama ini? Aku meminta maaf kepadamu. Lihatlah mataku,
aku mengatakan kejujuran. Apa kamu mendengar? Jangan diam saja! Stroke tidak
harus koma, kan? Bangunlah! Ayo bangun! Kamu biasa mendengar, kan? Bangun….
Maaf,
aku mencintaimu! Maaf!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
apa ya?