12.21.2012

saat cinta tinggal usia


Kamu ingat? Dulu di awal kita bertemu, aku menolongmu dari dua pria yang hendak melecehkanmu. Saat itu aku seperti seorang superhero yang menghajar mereka. Tidak tanggung-tanggung, mereka kubuat babak belur. Hebat, kan? Memang tidak masuk akal, tubuh tinggiku yang ceking menang atsa dua pria berpawakan preman. Tapi sepertinya Tuhan begitu merencanakan pertemuan kita dengan cara ini. 

Kamu masih ingat, kan setiap detailnya?


Semenjak saat itu kita saling bebrbicara lewat pesan. Sejujurnya aku tidak mempunyai rasa yang aneh padamu. Aku tida berharap apapun karena saat itu aku memiliki kekasih. Seorang wanita yang jauh berbeda darimu. Dia cantik, cerdas, dan sulit ditebak. Iya, aku mencintainya. Tapi tiga tahun hubungan kami berhenti ketika dia memilih pria yang diberikan oleh orang tuanya. 

Kamu tahu? Dunia seakan kedap udara. Aku berantakan. Serasa hanya cemilan di alam semesta. Dan aku memintaa maaf atas kerahasiaan tentang hal ini. Aku meminta maaf!

Seperti yang kuduga, kamu datang. Kamu hadir di saat yang tepat. Kamu seperti suster dengan kotak P3K. dengan sigap mengobati luka-lukaku. Dan, iya aku kembali pulih. Aku bangkit dari keterpurukanku. Ketelatenanmu ternyata sanggup mengutuhkan kembali hidupku. Terima kasih. Aku kembali merasakan dunia dipenuhi udara. Mungkin ini yang bernama karma.

Lambat laun aku meraskan gelagat aneh pada dirimu. Tidak, sejujurnya aku tak pernah berharap cinta darimu. Aku tidak ingin kamu menjadi singgahanku. Aku tidak ingin menyakitimu. Bukankah perempuan sebaiknya dicintai? Pasti ada pria lain yang bisa menawarkanmu kebahagiaan. Jangan aku. Tapi kamu memaksa untuk tetap mencintaiku. Menanggung resiko yang sudah aku ketahui. Dan aku tidak punya hati untuk mencintaimu. 

Kamu tahu? Setiap mengingat hal ini aku ingin menghajar diriku seperti aku menghajar dua pria yang dulu hendak melecehkanmu.

Dua puluh delapan tahun hidup bersamamu itu adalah kebahagiaan yang kuabaikan. Janji-janji yang kuingkari. Aku sering meninggalkanmu demi kehidupan malam. Tetapi apa yang kamu lakukan? Justru kamu menyiapkan air hangat ketika aku pulang subuh, memijat pundakku saat benat-benar kelelahan. Kamu benar-benar telaten mengurus suamimu. Sedang aku tidak pernah ingat kapan tanggal pernikahan kita. 

Kamu tahu? Setiap mengingat hal itu aku ingin menghajar diriku seperti aku menghajar dua pria yang hendak melecehkanmu dulu atau sekalian kubunuh saja .

Aku meminta maaf kepadamu. Aku meminta maaf. Maaf! Aku tahu kamu tulus mencintaiku. Apa perasaanmu seperti ini yang kamu simpan selama ini? Aku meminta maaf kepadamu. Lihatlah mataku, aku mengatakan kejujuran. Apa kamu mendengar? Jangan diam saja! Stroke tidak harus koma, kan? Bangunlah! Ayo bangun! Kamu biasa mendengar, kan? Bangun….

Maaf, aku mencintaimu! Maaf!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

apa ya?