Dulu ketika
masih SMA, pernah ada acara bedah buku di sekolah. Aku lupa siapa dan apa buku
yang dibedah. Saat itu aku delapan belas tahun. Dan saat itu pula tiga bulan sudah
aku putus dengan pacarku. Dan parahnya lagi mantan pacarku juga berada di ruang
yang sama, di acara bedah buku. Aneh, nyesek, dan pengen pipis. Acaranya
sebenarnya biasa saja, seorang penulis yang berbagi pengalaman dengan peserta
bedah buku. Tetapi aku masih ingat ada bagian yang sempat membuat bulu hidungku
berdiri. Potongan memori yang masih teringat hingga kini. Mas yang membedah
buku melontarkan sebuah pertanyaan kepada kami,
“Pernah
jatuh cinta? Pernah? Coba angkat tangan yang merasa pernah jatuh cinta!”
Tidak ada
satu pun dari kami yang angkat tangan. Tetapi setiap dari kami semua menahan
senyum yang tertimbun malu. Kami hanya saling melirik. Dan iya, saat itu aku
melirik dia. Ada rasa sengatan listrik 2080 watt. Nylekit dan menyenangkan. Sesaat
kemudian mas yang membedah buku kembali melontarkan pertanyaan,
“iya,
kenapa senyum-senyum? Semua pada merasa pernah jatuh cinta, ya?” dan kami
tersenyum lagi. “tetapi,” lanjut masnya yang membedah buku, “siapa dari
kalian yang pernah dijatuhcintai? Coba angkat tangan yang pernah dijatuhcintai?”
Jleb.
Berbeda dengan
ekspresi dari pertanyaan pertama, kami cenderung diam dan seperti
merenung. Termasuk aku. Aku melirik dia. Dia juga diam. Aku memnggeleng-geleng
kepala. Dan pertanyaan dalam hati itu pun muncul, “sudah delapan belas tahun
hidup menghirup udara dengan gratis ini, apa aku pernah dijatuhcintai?” Aku
melirik dia sekali lagi. Sakit. Aku dengan setia selama dua tahun menunggunya. Aku
yang selalu bercerita tentang dia kepada setiap wanita. Aku yang selama lima
belas bulan menjalin komitmen dengannya. Aku yang benar-benar jatuh cinta
kepadanya. Tetapi, selama itu pula “apa aku juga dijatuhcintai?” Aku melihat
dia lagi. Aku merasa hanya sebuah cemilan di alam semesta. Aku melihatnya lagi.
Aku pengen pipis.
Selang tiga
tahun berlalu. Aku sudah kuliah dan aku juga sudah bersama pacarku yang
sekarang. Aku suka memanggilnya ‘Chaa (bukan merk butiran cokelat yang mirip
telur cicak). Dia seorang gadis penyabar dan berhati selembut butiran ice
cream.
Pernah,
menjelang sore, aku bercanda dengan teman sekelasku. Namanya Ledre. Entah apa
mulanya yang kami bicarakan, dengan spontan aku bertanya padanya,
“Pernah
pacaran?”, wajah kudekatkan ke arahnya.
“Ya pernahlah,
menghina banget, sih” sewotnya.
“Kalau jatuh
cinta, pernah?”
“Pernah,
emang kenapa?”, selidikinya.
“Umm…kalau
dijatuhcintai, pernah?”
Dia tersenyum
aneh.
Aku cuma nyengir
saja.
Tiba-tiba
dia berbalik tanya, “Emang kamu pernah dijatuhcintai?”
Aku menelan
ludah, “Umm…mending kamu tanya ke ‘Chaa? Bagaimana?”
Dia tersenyum
aneh lagi. Kemudian kami tertawa aneh bersama-sama.
Malamnya di
saat aku sudah cuci kaki tangan dan bersiap tidur. Ledre mengirim pesan ke
ponselku.
“Tanggung
jawab! Gara-gara pertanyaanmu aku kepikiran terus. Aku nggak bisa tidur, tahu!”
Aku tersenyum
kecut. Ponsel kugeletakan begitu saja. Aku berusaha memejamkan mata. Dan sepotong tanya
itu pun kembali muncul,
“Apa aku pernah dijatuhcintai?”
emm..gimana yaa
BalasHapusberuntunglah kamu dijatuhcintai
Hapus