2.29.2012

menghapus cerita 2


Aku bergegas masuk rumah sebelum hujan turun deras. Benar saja, orang rumah menunggu kedatanganku. Meraka menyambutku penuh haru. Kakekku yang sudah tua memelukku penuh bangga disusul budheku yang tak mampu menahan air mata. Bocah dungu yang dulu suka cari ikan di kali sebelah rumah kini sudah pulang membawa bangga nama keluarga. Mungkin ini ekspresi berlebih menyambut salah seorang cucu/keponakan yang baru saja wisuda strata pertama (dan mungkin satu-satunya) tapi tak apalah untuk ukuran sebuah keluarga yang tinggal di desa.

Setelah membersihkan diri dan bercerita panjang lebar, aku menyantaikan badan di ruang depan sembari menikmati hujan yang hampir reda. Secangkir teh hangat kuseduh dengan tenang, nikmat dan sehangat suasana rumah. Semua berjalan baik-baik saja sebelum kutemukan sepotong kertas berwarna coklat muda di atas meja bermotif bunga warna emas dan beraroma khas. Aku terkejut membaca sepasang nama. Salah satunya sangat kukenal bahkan melekat di dada sampai sekarang. Sebuah nama yang (pernah) kurindukan hampir setiap malam. Nama yang tak bisa sejenak saja tertinggal di kamar. Nama itu kamu dan satunya bukan namaku yang tertera. Tiba-tiba hentakan jantung menyesak di dada. Sehentak saja. Nyeri.

Sepenggal udara kuhirup dalam-dalam untuk menenangkan diri.

Ahh…lama juga aku tak mendengar kabarmu, tanpa ada tanda-tanda sudah melayangkan undangan begitu saja.  Aku tersenyum. Teringat dulu ketika masa sekolah. Masa-masa remaja yang lucu dan bengal. Apa lagi tentang cinta. Aku tidak menyangka Tuhan memperkenalkan cinta padaku melaluimu. Seorang perempuan manis, tinggi, berambut lurus, dan bermata teduh. Tiga kali menembak, dua tahun menunggu, lima belas bulan berkomitmen. Serasa baru rabu kemarin aku mengenalmu. Apa kamu masih suka mengikat rambut seperti serial manga sailormoon? Apa kamu sudah bisa mengatur pola makanmu? Apa juga masih suka berbohong untuk pergi ke suatu acara? Seperti setiap kencan kita dulu. Dulu sekali.

Kepala kugeleng-gelengkan dan menahan tawa.

Masih ingat bagaimana kita bertemu kali pertama? Sederhana saja. Di depan ruang TU kamu memandangiku tak sedingin udara saat itu. Untuk mendapat perhatianmu aku berusaha (dengan keras) bermain guitar, padahal aku buta akan nada bahkan aku tak bisa membedakan antara suaraku dengan suara kucing tetangga yang diperkosa kucing berandalan yang kebetulan sedang melintas. Kacau abis. Jujur saat itu aku begitu bangga bisa duduk sebelah denganmu.

Kamu tahu, sejak saat itu aku terkena insomnia akut.

Dan sekarang waktu memang berlalu begitu cepat. Apa saja yang terjadi denganmu selama ini tanpa aku? Dan tentunya aku tak akan melewatkan hari bahagiamu. Sebentar lagi.

Kubongkar seisi almari mencari baju yang cocok.

Kucoba dari batik warna merah gelap sepertinya pas.

Tapi, tidak, ah, terkesan tua dan misterius.

Kemeja kotak-kotak warna kuning.

Apa tidak seperti spongebob yang kena radiasi beri-beri?

Kalau warna hitam…

jangan warna hitam, ini pesta pernikahan bukan ritual pemakaman!

Kalau kaos oblong….Sial. Aku sarjana muda lulusan perguruan tinggi negeri kebanggaan bangsa tidak mampu memilih kostum yang tepat untuk menghadiri resepsi pernikahan. Dan aku berusaha keras untuk menjauhi kaos oblong.

Aku berbaring di kasur. Kepalaku ngilu serasa ada puting beliung.

Tujuh tahun sejak pertemuan pertama kita, ternyata belum mampu merelakanmu. Waktu begitu cepat berlalu tanpa sempat menghapus namamu.

1 komentar:

  1. aku menunggu tulisanmu selanjutnya, tulisan dengan objek yang berbeda.

    BalasHapus

apa ya?