Aku duduk di bangku peron terminal Purbaya. Clingak-clinguk masih
menunggu nggak ada temennya. Panas menyergap ke segala penjuru. Kayaknya
nereka sedang bocor halus, atau gara-gara matahari membuka cabang di
mana-mana.
Semua orang tetap pada aktivitasnya. Begitu pula
denganku, duduk, membaca buku Cinta Brontosaurusnya Raditya Dika sambil
pikiran berkeliaran ke mana-mana. Kalau pikiranku ini diibaratkan tinja,
tentunya udah dibuang ketika pertama kali di keluarkan.
Sebenarnya
aku di sini, duduk manis kayak anak SD, sapa yang paling anteng, dia
pulang duluan tu, buat ngitung frekuensi orang-orang yang lalu lalang di
terminal Purbaya. Kemudian hasilnya disetorin kerumah sakit jiwa
sebagai tugas akhir buat nentuin lulus nggaknya jadi orang gila (nggak
banget!!)
Aku nunggu seseorang.
Tepatnya seseorang yang
ninggalin aku. Mungkin benar pendapat temen-temen. Dia udah nggak betah
ngadepin aku, belum siap menerima aku apa adanya yang terlanjur tampan
ini. Bagamana tidak, setiap hari harus makan ati. Melihatku digoda oleh
cewek-cwek lain. Cemburu kalo aku jalan bareng sama cowok yang baru
kukenal (gedubrrraakk!!!).
Aku juga merasakan ketersiksaannya itu.
Tapi mau gimana lagi, lampu PLN terlanjur padam. Dia nyerah dan
ninggalin aku.Tak ada yang lain. Hanya itu yang kutau atas kepergiannya
yang semena-mena itu (dan memang aku nggak mau cari tau alasan yang
lain).
Ya Tuhan...
Kenapa Engkau ciptakan makhluk yang terlanjur tampan ini???
Ampunilah ketampanan yang menyebalkan ini Ya Tuhan.... dan kalo perlu
kurangilah bila itu dapat ngindarin hambamu ini dari fitnah (tapi dikit
aja ya...!!)
Amien.
Aku yakin, sebenernya dia masih mengharapkan penuh arti kalo aku adalah tempat asal mulanya.
Dengan alasan itu pula, mungkin aku dapat bertahan selama dua tahun
belakangan ini menjadikanya energi-energi positif dalam menetralisir
hati. Sebuah penantian panjang di bangku peron Purbaya ini.
Ponselku bergetar. Satu pesan masuk.
”kamu di mana?”
Aku berdiri. Tolah-toleh mencaari-cari.
Nah itu dia. Sesosok makhluk berjaket biru agak tua dikit, bercelana
jeans, rambut sedang sedikit berantakan. Tak seberantakan hatiku.
Kuperhatikan punggungnya. Benar dia nggak punya sayap, atau
jangan-jangan dia sengaja ninggalin sayapnya ketika turun dari surga?
Hmm... nggak ada yang berubah darinya, tetep saja cantik (setidaknya untuk ukuran hatiku)
Kulambaikan tangan. Tak sulit ternyata untuk menemukan sesosok yang
tampan dalam kerumunan sepi. Dia menghampiriku. Berhubung ini bukan film
India, jadi nggak ada adegan peluk dan cipika-cipiki, apa lagi
nari-nari diiringi nyanyi-nyanyi.
Sekilas kulihat raut wajahnya sdikit redup. Ada garis lesu yang tersimpul.
Kami duduk bersama.
Tak ada suara!!
Jangankan nanyain tahun baru suro kemarin udah mandi apa belum, nyapa kabarpun nggak.
Ada yang aneh. Dua hari yang lalu dia sms, pengen ketemuan. Sekarang,
setelah bersebelahan, sepatah, dua patah, tiga patah atau beberapa patah
pun belum terucap. Apa yang sebenernya makhluk ini inginkan??
Namun tiba-iba..
”Ardi...”, dia memecah keheningan. Wajah kuarahkan kepadanya. Dia menunduk.
”maafin aku ya!!”
Srreeeetttt...!!
Dalam sepersekian detik tubuhku bergetar. Ada arus listrik 6 juta
megavolt mengalir deras. Kesembilan akal kuputar hingga menyentuh perasa
tunggalku.
Yess, aku bakal lulus jadi orang gila dengan predikat A plus plus.
”mm... punya tisuee?”
Dia menggeleng, matanya mulai berkaca-kaca.
”mm... kalo maaf punyakan?”
”aku yang seharusnya minta maaf, Di. Bukan kamu!”
”maafin aku Na, yang terlalu lama buat maafin kamu.”
Ia menoleh kearahku. Mata kami saling bertemu. Kulihat pancaran tulus
dari sinarnya. Perlahan kaca-kaca itu memecah menjadi buliran hangat.
Aku tersenyum, kemudian menyambut rebahan kepalanya di pundakku.
Orang-orang berlalu lalang dengan aktifitasnya. Bis satu persatu
berangkat sesuai tujuannya dan peron adalah tempat untuk menunggu
perjalanan selanjutnya.
Terkadang cinta sejati itu, ketika kita mengira telah pergi, ternyata dia masih menunggu untuk kembali.
Oia, lampu PLN nyala lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
apa ya?