Aku bergegas masuk rumah sebelum
hujan turun deras. Benar saja, orang rumah menunggu kedatanganku. Meraka
menyambutku penuh haru. Kakekku yang sudah tua memelukku penuh bangga disusul
budheku yang tak mampu menahan air mata. Bocah dungu yang dulu suka cari ikan
di kali sebelah rumah kini sudah pulang membawa bangga nama keluarga. Mungkin ini
ekspresi berlebih menyambut salah seorang cucu/keponakan yang baru saja wisuda
strata pertama (dan mungkin satu-satunya) tapi tak apalah untuk ukuran sebuah
keluarga yang tinggal di desa.
Setelah membersihkan diri dan
bercerita panjang lebar, aku menyantaikan badan di ruang depan sembari menikmati
hujan yang hampir reda. Secangkir teh hangat kuseduh dengan tenang, nikmat dan
sehangat suasana rumah. Semua berjalan baik-baik saja sebelum kutemukan
sepotong kertas berwarna coklat muda di atas meja bermotif bunga warna emas dan
beraroma khas. Aku terkejut membaca sepasang nama. Salah satunya sangat kukenal
bahkan melekat di dada sampai sekarang. Sebuah nama yang (pernah) kurindukan
hampir setiap malam. Nama yang tak bisa sejenak saja tertinggal di kamar. Nama
itu kamu dan satunya bukan namaku yang tertera. Tiba-tiba hentakan jantung
menyesak di dada. Sehentak saja. Nyeri.
Sepenggal udara kuhirup
dalam-dalam untuk menenangkan diri.
Ahh…lama juga aku tak mendengar
kabarmu, tanpa ada tanda-tanda sudah melayangkan undangan begitu saja. Aku tersenyum. Teringat dulu ketika masa
sekolah. Masa-masa remaja yang lucu dan bengal. Apa lagi tentang cinta. Aku
tidak menyangka Tuhan memperkenalkan cinta padaku melaluimu. Seorang perempuan
manis, tinggi, berambut lurus, dan bermata teduh. Tiga kali menembak, dua tahun
menunggu, lima belas bulan berkomitmen. Serasa baru rabu kemarin aku mengenalmu.
Apa kamu masih suka mengikat rambut seperti serial manga sailormoon? Apa kamu sudah
bisa mengatur pola makanmu? Apa juga masih suka berbohong untuk pergi ke suatu
acara? Seperti setiap kencan kita dulu. Dulu sekali.
Kepala kugeleng-gelengkan dan
menahan tawa.
Masih ingat bagaimana kita
bertemu kali pertama? Sederhana saja. Di depan ruang TU kamu memandangiku tak
sedingin udara saat itu. Untuk mendapat perhatianmu aku berusaha (dengan keras)
bermain guitar, padahal aku buta akan nada bahkan aku tak bisa membedakan
antara suaraku dengan suara kucing tetangga yang diperkosa kucing berandalan
yang kebetulan sedang melintas. Kacau abis. Jujur saat itu aku begitu bangga
bisa duduk sebelah denganmu.
Kamu tahu, sejak saat itu aku terkena
insomnia akut.
Dan sekarang waktu memang berlalu
begitu cepat. Apa saja yang terjadi denganmu selama ini tanpa aku? Dan tentunya
aku tak akan melewatkan hari bahagiamu. Sebentar lagi.
Kubongkar seisi almari mencari
baju yang cocok.
Kucoba dari batik warna merah
gelap sepertinya pas.
Tapi, tidak, ah, terkesan tua dan
misterius.
Kemeja kotak-kotak warna kuning.
Apa tidak seperti spongebob yang
kena radiasi beri-beri?
Kalau warna hitam…
jangan warna hitam, ini pesta
pernikahan bukan ritual pemakaman!
Kalau kaos oblong….Sial. Aku
sarjana muda lulusan perguruan tinggi negeri kebanggaan bangsa tidak mampu
memilih kostum yang tepat untuk menghadiri resepsi pernikahan. Dan aku berusaha
keras untuk menjauhi kaos oblong.
Aku berbaring di kasur. Kepalaku
ngilu serasa ada puting beliung.
Tujuh tahun sejak pertemuan
pertama kita, ternyata belum mampu merelakanmu. Waktu begitu cepat berlalu
tanpa sempat menghapus namamu.
aku menunggu tulisanmu selanjutnya, tulisan dengan objek yang berbeda.
BalasHapus