10.10.2012

sesaat sebelum bertemu denganmu, aku menulis daftar tanya di kepalaku


apakah kamu sudah makan hari ini?


di sekolah atau di kamar rahasiamu?




apakah harimu sebelum saat ini menyenangkan


dan sudah menyelesaikan setumpuk tugasmu?




apakah kamu masih suka mengemil dan mengabaikan


sedikit berat badanmu atau mengonsumsi sayur dan buah tomat?



10.04.2012

untuk dia yang selalu memberiku maaf


apa masih ini terasa sebuah permainan?
lalu siapa yang bersembunyi?
tinggal kita berdua yang ada di hati masing-masing

masih tidak ingin menanggungnya dengan empat pundak yang kita punya?
bukankah kita bisa menyelesaikannya bersama?
tidak. Aku tidak akan memilih untuk meninggalkanmu sendiri

bagaimana?
apa kita bisa memulainya sekarang?
aku akan memilih selalu kalah bila bersaing denganmu
aku akan selalu….


maaf, bila selalu seperti ini.

9.22.2012

plan A

Aku menghampirinya. Tangannya mendekap beberapa buku. Ada sesuatu yang tidak beres, matanya mengisyaratkan mendung akan jatuh.

"Sini, aku bantu."

Dia diam.

"Mengapa? Baiklah, jika kamu tidak mau aku bantu." Aku menggodanya.

Dia menatapku dengan matanya yang mungil.

"Sekarang orang tuaku tahu tentang hubungan kita." Suaranya pelan.

"Jadi?"

9.03.2012

coba kita ingat


Apa kamu masih ingat bagaimana kita menjalin rasa? Menari di atas pentas dan sesekali bercengkrama dengan bayang?

Aku tak habis pikir, pertemuan sederhana itu membuatku insomnia akut sepanjang hari. 
Mengapa kamu masih diam setiap mata kita bercengkrama sedang hati kita bergetar menjadi sedenyut saja? 

Apa kamu pernah bercermin? Memandang sebentuk bayangan mungil, imut, cantik, segaris senyum berseri, dan beberapa pendukung keanggunan wanita lainnya. Pernah terselip satu tanya, “bagaimana bisa seorang yang tampan sebegitu mencintai makhluk kecil ini?” tak perlu heran karena aku pun juga masih heran.