Kali
ini aku akan bercerita tentang sebuah harapan. Beberapa hari yang lalu aku
nonton film Kon Tiki. Film ini
mengisahkan tentang seorang ilmuan yang membuktikan bahwa penduduk asli Polenesia berasal dari Amerika Selatan, bukan
Asia. Gara-gara itu, serasa ada yang tidak jenak di benak. Sebelum tidur dan
memimpikanmu kugendong dalam pelukanku, akan kuceritakan tentang sesuatu, lebih
tepatnya beberapa potongan ingatan.
Kuberi
tahu tentang rahasia kecil. Iya, rahasia kecil. Dan memang seharusnya kita
tidak memerlukan rahasia nantinya.
Kejadian
ini jauh sebelum bulan November tahun lalu. Sebelum aku memberanikan diri untuk
memberi kado ulang tahun ke-25 berupa film stop
motion dan melamar langsung seorang perempuan ayu yang saat ini menjadi
istriku.
Aku
masih ingat ketika kali pertama masuk sekolah. Hari itu hari Senin. Dandananku necis.
Rambut diminyaki dengan brisk. Seragam baru, tas baru, buku baru, bahkan celana
dalamku juga baru. Aku sudah merasa mirip dengan Andy Law, artis Hongkong
paling nge-hits masa itu.
Pagi-pagi
betul aku berangkat berjalan kaki. Sampai di sekolah aku mencari tempat duduk
di barisan tengah. Tempat paling strategis untuk mendapatkan ilmu. Tempat yang
akan mudah dilihat oleh semua teman termasuk guru. Hari yang paling bersejarah
dalam hidupku. Semua akan terpesona dengan ketampananku, prestasiku. Mereka pasti
akan kagum dengan kemampuan membacaku yang setara dengan siswa kelas 2. Mereka pasti
tidak percaya bahwa aku sudah mampu mengoprasikan pengurangan. Dan mereka pasti
akan terpesona dengan dandananku yang necis, mirip artis paling nge-hits.
Iya, PASTI!!!
Dan
ternyata TIDAK.
Hari
itu berlangsung biasa-biasa saja. Tidak ada yang membekas dalam ingatan mereka.
Aku justru banyak diam. Dan aku percaya mereka tidak pernah tahu siapa aku,
termasuk warna celana dalam baruku. Tidak ada yang tahu.
Kamu
pasti bertanya, kalau tidak ada yang spesial lalu mengapa harus kuceritakan
kepadamu?
Ini
hanya rahasia kecil yang ingin kuberi tahu kepadamu. Iya, rahasia kecil. Dan memang
seharusnya kita tidak memerlukan rahasia nantinya.
Sejak
saat pertama bersekolah, aku menyadari bahwa ada seorang laki-laki yang hilang.
Seseorang yang seharusnya mengantarku ke sekolah. Seseorang yang seharusnya
kucium tangan dan kuminta jatah uang saku kepadanya. Seseorang yang seharusnya
menjadi pelindung ketika aku dimarahi tetangga rumah karena membakar petasan
malam-malam. Seseorang yang seharusnya mengkhawatirkanku ketika maghrib baru
pulang dari kali mencari ikan. Seseorang yang seharusnya mengajakku piknik
ketika libur sekolah tiba. Seseorang yang seharunya kubela saat teman-teman
memanggilku dengan sebutan namanya. Seseorang yang seharusnya mengajariku
menjadi lelaki yang bertanggung jawab. Seseorang yang seharusnya kubanggakan
menjadi putranya. Dan seseorang yang seharusnya kupanggil dengan sebutan … ayah.
Seseorang
yang sampai saat ini tak pernah berjumpa dengannya.
Entah
apa jadinya bila variabel semesta yang diberikan Tuhan berbeda. Apa aku masih
tetap akan setelanjurtampan ini atau justru mungkin lebih. Tidak ada yang akan
tahu. Aku tetap bersyukur akan hal itu.
Ah,
lucu memang. Tiap kali aku mengingatnya, serasa meminum jus blimbing wuluh
rendah kalori. Terasa ngilu, mengrinyitkan pipi.
Dan
apa kamu tahu, sebentar lagi aku akan menjadi seseorang yang akan kamu panggil ‘ayah’?
Percayalah,
kapanpun nanti kamu akan membaca cerita ini, aku akan selalu berusaha menjadi
yang terbaik untukmu. Menjadi seseorang yang menyayangimu. Utuh.
Ini sekadar rahasia kecil. Iya, rahasia kecil. Dan memang seharusnya kita tidak
memerlukan rahasia nantinya.
nb: cerita ini sedikit
terinspirasi dari hurufkecil
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
apa ya?