12.31.2016

untuk seseorang yang ada dalam rahim istriku

Kali ini aku akan bercerita tentang sebuah harapan. Beberapa hari yang lalu aku nonton film Kon Tiki. Film ini mengisahkan tentang seorang ilmuan yang membuktikan bahwa penduduk asli  Polenesia berasal dari Amerika Selatan, bukan Asia. Gara-gara itu, serasa ada yang tidak jenak di benak. Sebelum tidur dan memimpikanmu kugendong dalam pelukanku, akan kuceritakan tentang sesuatu, lebih tepatnya beberapa potongan ingatan.

Kuberi tahu tentang rahasia kecil. Iya, rahasia kecil. Dan memang seharusnya kita tidak memerlukan rahasia nantinya.


Kejadian ini jauh sebelum bulan November tahun lalu. Sebelum aku memberanikan diri untuk memberi kado ulang tahun ke-25 berupa film stop motion dan melamar langsung seorang perempuan ayu yang saat ini menjadi istriku.

Aku masih ingat ketika kali pertama masuk sekolah. Hari itu hari Senin. Dandananku necis. Rambut diminyaki dengan brisk. Seragam baru, tas baru, buku baru, bahkan celana dalamku juga baru. Aku sudah merasa mirip dengan Andy Law, artis Hongkong paling nge-hits masa itu.

Pagi-pagi betul aku berangkat berjalan kaki. Sampai di sekolah aku mencari tempat duduk di barisan tengah. Tempat paling strategis untuk mendapatkan ilmu. Tempat yang akan mudah dilihat oleh semua teman termasuk guru. Hari yang paling bersejarah dalam hidupku. Semua akan terpesona dengan ketampananku, prestasiku. Mereka pasti akan kagum dengan kemampuan membacaku yang setara dengan siswa kelas 2. Mereka pasti tidak percaya bahwa aku sudah mampu mengoprasikan pengurangan. Dan mereka pasti akan terpesona dengan dandananku yang necis, mirip artis paling nge-hits. Iya, PASTI!!!

Dan ternyata TIDAK.

Hari itu berlangsung biasa-biasa saja. Tidak ada yang membekas dalam ingatan mereka. Aku justru banyak diam. Dan aku percaya mereka tidak pernah tahu siapa aku, termasuk warna celana dalam baruku. Tidak ada yang tahu.

Kamu pasti bertanya, kalau tidak ada yang spesial lalu mengapa harus kuceritakan kepadamu?

Ini hanya rahasia kecil yang ingin kuberi tahu kepadamu. Iya, rahasia kecil. Dan memang seharusnya kita tidak memerlukan rahasia nantinya.

Sejak saat pertama bersekolah, aku menyadari bahwa ada seorang laki-laki yang hilang. Seseorang yang seharusnya mengantarku ke sekolah. Seseorang yang seharusnya kucium tangan dan kuminta jatah uang saku kepadanya. Seseorang yang seharusnya menjadi pelindung ketika aku dimarahi tetangga rumah karena membakar petasan malam-malam. Seseorang yang seharusnya mengkhawatirkanku ketika maghrib baru pulang dari kali mencari ikan. Seseorang yang seharusnya mengajakku piknik ketika libur sekolah tiba. Seseorang yang seharunya kubela saat teman-teman memanggilku dengan sebutan namanya. Seseorang yang seharusnya mengajariku menjadi lelaki yang bertanggung jawab. Seseorang yang seharusnya kubanggakan menjadi putranya. Dan seseorang yang seharusnya kupanggil dengan sebutan … ayah.

Seseorang yang sampai saat ini tak pernah berjumpa dengannya.

Entah apa jadinya bila variabel semesta yang diberikan Tuhan berbeda. Apa aku masih tetap akan setelanjurtampan ini atau justru mungkin lebih. Tidak ada yang akan tahu. Aku tetap bersyukur akan hal itu.

Ah, lucu memang. Tiap kali aku mengingatnya, serasa meminum jus blimbing wuluh rendah kalori. Terasa ngilu, mengrinyitkan pipi.

Dan apa kamu tahu, sebentar lagi aku akan menjadi seseorang yang akan kamu panggil ‘ayah’?
Percayalah, kapanpun nanti kamu akan membaca cerita ini, aku akan selalu berusaha menjadi yang terbaik untukmu. Menjadi seseorang yang menyayangimu. Utuh.

Ini sekadar rahasia kecil. Iya, rahasia kecil. Dan memang seharusnya kita tidak memerlukan rahasia nantinya.




nb: cerita ini sedikit terinspirasi dari hurufkecil

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

apa ya?