12.03.2018

Cita-cita Menjadi Guru itu Punya Risiko Besar

Menjadi guru itu sebenarnya bukanlah cita-cita utama di negeri ini yang bisa menjamin seseorang bakalan hidup mulia di masa depan. Percaya atau tidak hal yang dapat diharapkan agar guru hidup (lumayan) menjanjikan adalah menjadi guru yang berstatus pegawai negeri. Ya, karena itu sudah pasti.

Kalau tidak percaya, monggo mengajukan pertanyaan kepada rekan sejawat yang berprofesi sebagai guru, wal khusus guru honorer. Pasti harapannya ingin diangkat menjadi guru pegawai negeri. Dengan iming-iming gaji yang sudah lumayan menyejahterakan dan belum lagi diiming-imingi tunjangan lain-lain.


Kita masih ingat dengan jelas hiruk pikuk rekrutmen CPNS tahun ini. Memang banyak formasi guru yang dibutuhkan. Hal itu berbanding lurus dengan jumlah pelamar yang membeludak. BKN sebenarnya juga sudah membuka jalur khusus golongan K-2 bagi guru honorer yang sekian tahun namanya telah menunggu di long list. Tapi apa daya pungguk merindukan bulan, kriteria dan hasil tes SKD menambah kegundahgulanaan para guru honorer.

Problema guru honorer bukan soal kesejahteraan saja yang masih di bawah upah buruh tetapi, yang terpenting dan utama, mendidik generasi muda agar cerdas dan mempunyai akhlakul karimah. Di zaman kekinian yang humanis seperti sekarang, seorang guru memiliki tantangan yang lebih kompleks lagi. Anak-anak muda sekarang kebanyakan sudah tidak memiliki sikap tawaduk lagi kepada guru. Orang tua dengan pasrah dan menuntut agar anaknya bisa pintar sekolah. Bisa mudah kuliah nantinya, menjadi dokter atau insinyur, dan sukses dunia akhirat. Kalau anaknya salah dan diberi tindakan tegas dari sekolah kemudian orang tua bakalan mencak-mencak tidak rela anaknya diinilah diitulah. Hmm.

Saya masih ingat dulu pas SD kelas 4 waktu pelajaran matematika. Kami disuruh maju satu-satu untuk hapalan perkalian. Kalau ada yang salah, guru saya tidak segan-segan mengunakan antena radio yang bisa diodot untuk menyampluk lengan kami. Sakit, memar, dan malu. Atau pas SMP ketika upacara hari Senin. Guru olahraga saya pasti keliling di belakang barisan murid dan menyaduki bokong kami yang sedang cengengesan ketika bendera merah putih dikibarkan. Malah ketika SMA, ketika puncak-puncaknya masa puber, saya dan beberapa teman pernah nyentili kerikil sambil jalan jongkok keliling lapangan basket gara-gara buat konser di dalam kelas pas jam kosong. Kami tidak ada yang protes dan merasa keberatan dengan konsekuensi itu. Orang tua saya pun malah tertawa bahagia ketika saya ceritai kalau saya abis dijewer karena tidak memakai sabuk. Mereka justru mewejangi agar sekolah yang pinter dan disiplin.

Kalau sekarang metode itu masih diterapkan di sekolah, ya bakalan rame. Bakalan viral. Kena sumpah serapah para netijen yang mahabenar, digiring ke kantor polisi untuk dimintai tanda tangan, eh, keterangan, dan yang paling ngeri mati dikeroyok muridnya sendiri. Entah mati kariernya atau mati dalam artian sebenarnya. Fenomena yang sudah hampir lazim saat ini. Risiko demi mencerdaskan anak bangsa yang berakhlakul karimah. Hmm.

Sebenarnya guru melakukan hal itu bukanlah tindakan kekerasan tetapi bentuk ketegasan. Pastilah guru sekarang mengerti aturan dan prosedural bagaimana mengajar. Guru memiliki skill dalam menangani kasus murid dengan berpendagogi. Akan tetapi, dalam lubuk hati saya setuju bila cara yang “lunak” tidak bisa membuat efek jera murid, maka perlu tindak ketegasan. Jangan disalahartikan sebagai bentuk kekesalan, balas dendam, apalagi kekerasan. Ingatlah bahwa guru juga manusia yang memiiki welas asih, rasa tidak tega, dan kasih sayang sepanjang masa. Ya, meskipun tidak memungkiri ada saja oknum guru yang menyalahi kewenangannya.

Sepanjang pengetahuan saya, guru yang sangat kebejan punya murid tawaduk itu adalah Resi Drona dalam kisah pewayangan Mahabarata dengan lakon Bima Suci. Bagaimana tidak? Bima langsung melaksanakan titah sang guru untuk mencari tirta perwita yang konon katanya na’udzubillahi min dzalik risikonya besar sekali. Bima tidak pernah berpikiran buruk terhadap gurunya. Dia yakin bahwa apa yang diperintahkan sang guru adalah kebaikan baginya meskipun pada sesi pamitan kepada ibunda Kunti, yang khawatir akan keselamatan Bima, sempat berujar, “Kalaupun aku mati, biarlah guruku yang mendapatkan karmanya!” Alangkah syahdu Resi Drona punya murid Bima.

Mungkin ada sedikit prespektif yang dilupakan atas cerita tersebut, yaitu keyakinan Resi Drona bahwa Bima bakalan lulus melewati ujian akhir nasional itu. Resi Drona tahu betul kemampuan muridnya. Karena sejatinya, seorang gurupun tidak akan menyuruh murid untuk melakukan hal yang di luar kemampuannya.

Ah, seandainya semua murid seperti Bima. Dan semua guru selayaknnya Resi Drona yang mampu mencerdaskan anak bangsa dan berakhlakul karimah. Hmmm.

Mudah-mudahan pas puncak peringatan hari guru kemarin, guru benar-benar mampu menjadi penggerak perubahan dalam revolusi industri 4.0. Semua tuntutan kesejahteran guru terpenuhi, khususnya rekan-rekan honorer dan segera diangkat menjadi guru pegawai negeri (bagi yang masih berharap). Dan mudah-mudahan juga masih terselip doa tulus agar siswa-siswa kita memiliki sikap tawaduk karena merekalah yang akan menjadi pelaku revolusi industri ke depannya.

Sedang harapan saya sendiri bisa dibilang cukup ribet. Guru bisa menjadi sebuah perwujudan cita-cita yang mulia. Bukan menjadi alibi profesi agar kehidupannya sejahtera. Guru adalah simbol harapan anak-anak. Guru adalah, konon katanya, profesi yang pertama masuk surga. Kelak mereka akan bangga dan legowo bisa “dikalahkan” muridnya tanpa harus berharap menjadi pegawai negeri. Ya meskipun TPG, THR, gaji ke-13, dan pesangon pensiunan yang ngawe-ngwe ngece menggiurkan. Hmmm.

4 komentar:

apa ya?