8.26.2013

dari halaman persembahan

Untuk ayah

Dulu ketika duduk di bangku SD kelas 2 aku mendapat tugas bahasa Indonesia untuk bercerita di depan kelas tentang ayah. Saat itu aku iri dengan temanku yang lincah berceloteh tentang ayahnya yang mempunyai sapi, setiap hari ke sawah, atau bekerja sebagai sopir truk. Sedang aku terdiam nyaris setengah jam di depan kelas. Lidahku serasa kaku karena tidak tahu kata apa yang semestinya kususun untuk bercerita tentangmu. Bukan! Bukan tidak ma(mp)u tapi aku benar-benar tidak tahu. Aku dihukum karena hal itu.

Yah, setelah 14 tahun berlalu, sekarang aku mempunyai cerita yang ingin kubagikan denganmu. Kamu mau mendengarkan?


Ibu dengan susah payah membesarkanku. Kasih sayangnya masih kuat meski jarak antara Kalimantan dan Jawa terbentang terlalu jauh. Sejak ibu bertransmigrasi aku dirawat Mboke, Mbah Putri (alm), dan Mbah Kung. Alhasil, aku menjadi cucu kesayangan meski tidak jarang pahaku membiru karena getilan mereka. Sanak saudara dari ibu, Papah, Mas Tho, Mas Joko, dan semuanya, silih berganti membiayaiku agar dapat tetap bersekolah hingga aku mempunyai kesempatan untuk menulis halaman ini untukmu. Merekalah yang menanyakan hasil raporku setiap kenaikan kelas. Merekalah yang mengajariku bagaimana harus bersyukur, menjalani hidup dengan peduli kepada yang lain. Merkalah yang menciptakan lingkungan keluarga yang selalu kurindu dan merekalah yang mengambil alih peranmu.

Yah, apa kamu tahu aku masih tidak berani menanyakan seperti apa ayah kepada mereka?

Aku tumbuh menjadi remaja yang menyebalkan. Seorang laki-laki yang telanjur tampan meski kata Ibu, kakakku, Mas Dicky lebih cakep dibanding aku. Aku memakhlumi karena, kata Ibu (lagi), Mas Dicky tumbuh mirip kamu, Yah. Kata Ibu! Iya, kata Ibu. Karena aku tidak pernah ingat seperti apa wajahmu.

Mengenai teman, aku ingin bercerita tentang mereka. Dimulai ketika SD aku selalu nebeng dengan Rifai, teman sebangku yang mengajariku hidup tanpa mengeluh. Burhan, teman semasa SMP yang mengajariku bahwa benar itu benar dan salah tetaplah salah. Andris, teman SMA yang kali pertama aku mampu berbagi cerita tentang ayah dengan seseorang. Mashu, Andrik, dan Bowo, mereka teman sekaligus saudara bukan sedarah. Armygo, teman satu  kos yang setia suka dan menderita. Paket teman PA 2009 yang sangat hebat. Dan satu lagi Ryan, dia seperti Spock, bangsa Vulcan setengah manusia, yang mengandalkan logika tapi sebenarnya indra perasanya sangat kuat.

Yah, apa kamu tahu setiap kali mereka bertanya tentangmu aku hanya bisa tersenyum kemudian mengalihkan pembicaraan?

Dan tentang cinta, aku ingin memperkenalkan mereka kepadmu, Yah. Wedna Kasari, Lilis Yuliani, dan Anggraini Dewi. Merekalah yang diutus Tuhan untuk memperkenalkan cinta kepadaku. Melalui mereka aku belajar tentang bagaimana berharap, mengerti, dan merelakan. Belajar bagaimana untuk melakukan yang sejujurnya bukan semestinya.


Yah, terima kasih kamu telah bertemu ibu kemudian menghadirkanku meskipun hingga saat ini kamu masih misteri bagiku. Dan skripsi ini aku persembahkan untukmu dan untuk mereka yang telah mempengaruhi hidupku. Terima kasih.

5 komentar:

  1. Sangat Menyentuh..,_
    Smga sUkses Ujian Skripsinya., ^_^

    BalasHapus
  2. Jo,,..aq sayang kamu,,..

    Dan satu kata spesial untukmu

    "JANCOK"

    Aq nangis coooook!!!!!
    (Sorry aq khilaf,.g oleh misuh2 yo?)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ayo maen remi bocah papat maneh neng omahmu nganti wengi

      Hapus

apa ya?