Untuk
ayah
Dulu
ketika duduk di bangku SD kelas 2 aku mendapat tugas bahasa Indonesia untuk
bercerita di depan kelas tentang ayah. Saat itu aku iri dengan temanku yang
lincah berceloteh tentang ayahnya yang mempunyai sapi, setiap hari ke sawah,
atau bekerja sebagai sopir truk. Sedang aku terdiam nyaris setengah jam di
depan kelas. Lidahku serasa kaku karena tidak tahu kata apa yang semestinya
kususun untuk bercerita tentangmu. Bukan! Bukan tidak ma(mp)u tapi aku
benar-benar tidak tahu. Aku dihukum karena hal itu.
Yah,
setelah 14 tahun berlalu, sekarang aku mempunyai cerita yang ingin kubagikan
denganmu. Kamu mau mendengarkan?
Ibu
dengan susah payah membesarkanku. Kasih sayangnya masih kuat meski jarak antara
Kalimantan dan Jawa terbentang terlalu jauh. Sejak ibu bertransmigrasi aku
dirawat Mboke, Mbah Putri (alm), dan Mbah Kung. Alhasil,
aku menjadi cucu kesayangan meski tidak jarang pahaku membiru karena getilan
mereka. Sanak saudara dari ibu, Papah, Mas Tho, Mas Joko, dan semuanya,
silih berganti membiayaiku agar dapat tetap bersekolah hingga aku mempunyai
kesempatan untuk menulis halaman ini untukmu. Merekalah yang menanyakan hasil
raporku setiap kenaikan kelas. Merekalah yang mengajariku bagaimana harus
bersyukur, menjalani hidup dengan peduli kepada yang lain. Merkalah yang
menciptakan lingkungan keluarga yang selalu kurindu dan merekalah yang mengambil
alih peranmu.
Yah,
apa kamu tahu aku masih tidak berani menanyakan seperti apa ayah kepada mereka?
Aku
tumbuh menjadi remaja yang menyebalkan. Seorang laki-laki yang telanjur tampan
meski kata Ibu, kakakku, Mas Dicky lebih cakep dibanding aku. Aku
memakhlumi karena, kata Ibu (lagi), Mas Dicky tumbuh mirip kamu, Yah. Kata Ibu!
Iya, kata Ibu. Karena aku tidak pernah ingat seperti apa wajahmu.
Mengenai
teman, aku ingin bercerita tentang mereka. Dimulai ketika SD aku selalu nebeng
dengan Rifai, teman sebangku yang mengajariku hidup tanpa mengeluh. Burhan,
teman semasa SMP yang mengajariku bahwa benar itu benar dan salah tetaplah
salah. Andris, teman SMA yang kali pertama aku mampu berbagi cerita tentang
ayah dengan seseorang. Mashu, Andrik, dan Bowo, mereka teman sekaligus saudara
bukan sedarah. Armygo, teman satu kos yang setia
suka dan menderita. Paket teman PA 2009 yang sangat hebat. Dan satu lagi Ryan,
dia seperti Spock, bangsa Vulcan setengah manusia, yang mengandalkan logika
tapi sebenarnya indra perasanya sangat kuat.
Yah,
apa kamu tahu setiap kali mereka bertanya tentangmu aku hanya bisa tersenyum
kemudian mengalihkan pembicaraan?
Dan
tentang cinta, aku ingin memperkenalkan mereka kepadmu, Yah. Wedna Kasari,
Lilis Yuliani, dan Anggraini Dewi. Merekalah yang diutus Tuhan untuk memperkenalkan
cinta kepadaku. Melalui mereka aku belajar tentang bagaimana berharap, mengerti,
dan merelakan. Belajar bagaimana untuk melakukan yang sejujurnya bukan
semestinya.
Yah,
terima kasih kamu telah bertemu ibu kemudian menghadirkanku meskipun hingga
saat ini kamu masih misteri bagiku. Dan skripsi ini aku persembahkan untukmu
dan untuk mereka yang telah mempengaruhi hidupku. Terima kasih.
Sangat Menyentuh..,_
BalasHapusSmga sUkses Ujian Skripsinya., ^_^
A- (baca:amin)
HapusJo,,..aq sayang kamu,,..
BalasHapusDan satu kata spesial untukmu
"JANCOK"
Aq nangis coooook!!!!!
(Sorry aq khilaf,.g oleh misuh2 yo?)
ayo maen remi bocah papat maneh neng omahmu nganti wengi
HapusA-
BalasHapus