7.22.2013

mantan #1 (kotak surat cinta)

Kali pertama pacaran sewaktu SMP kelas 9. Itupun mendekati UAN. Memang selama hampir tiga tahun ketelanjurtampananku dengan susah payah berhasil aku sembunyikan. Aku memang bener-benar hebat. Aku pacaran dengan anak kelas 7. Namanya…umm…sebut saja Neptunus. Iya, dia anak kelas 7 yang sedikit lebih cantik dibanding dengan yang lain. Pacaran kami cukup unik, pada era itu ponsel masih, sangat-sangat-sangat, dianggap barang mewah. Jadi ada tiga cara kami berkomunikasi.


Pertama, menggunakan telepon rumah yang tentunya dengan sembunyi-sembunyi biar tidak dipergoki sama orang tua, karena biaya telepon mahal. Setahuku pada waktu itu biayanya tergolong murah, 300 perak perlimamenit. Tapi biasanya aku telepon minimal setengah jam.

Cara kedua adalah lari ke wartel. Aku menyisihkan uang sakuku demi dapat mendengar suara Neptunus yang berasal dari seberang telepon. Mendengar suaranya yang kesulitan bila “R” membuatku ngilu menyenangkan. Kalau kepepet tidak punya uang, terpaksa cari-cari receh di kolong laci. Laci lemari orang tua tentunya. Lima ratus perak ternyata mampu berdampak menambah durasi untuk mendengar suaranya selama supuluh menit. Dari cara kedua ini aku sadar, bener kata orang tua, biaya telepon mahal.

Cara terakhir adalah melalui surat. Iya, ketika itu, surat adalah media yang cukup ampuh untuk memupuk benih-benih cinta yang kami rasa. Ada kesamaan selera dari kami berdua. Kami sama-sama suka membaca. Di saat teman-teman lain gemar otak-atik sepeda motor, aku justru gandrung karyanya Kahlil Gibran. Sedang Neptunus gemar membaca teenlit. Kahlil Gibran dan teenlit memang hebat.

Setiap dua sampai tiga hari sekali kami berbalas-balasan surat. Surat tidak serta merta aku berikan kepadanya di depan kelas ketika pulang sekolah. Ada semacam kesepakatan yang kami lakukan. Pada waktu itu tempat yang PALING JARANG DIKUNJUNGI SISWA LAIN DAN KAMI RASA AMAN adalah mushola jadi kami meletakan surat di angin-angin dinding mushola, celah yang keduapuluhtujuh dari bawah. Ya, jadilah mushola sebagai kotak pos kami. aku tidak tahu mengapa kami harus memilih celah keduapuluhtujuh. tak perlu alasan.

Aku sempat mangap ketika membaca surat cintanya yang pertama. Begitu tulus dan membuatku susah mingkem. Entah apa sarapan setiap paginya, dia membuatku klepeg-klepeg-peg. Aku sering masuk angin tiap kali membacanya. Aku masih ingat lembaran ajaib itu. Surat cinta pertama yang ditujukan kepadaku dari dia dan satu-satunya dari kaum wanita. seperti ini isinya...


Setelah mendengar semua kisahmu, ingin rasanya aku berbaur menjadi satu di dalam hidupmu. Aku ingin menjadi secercah cahaya yang dapat menerangi ruang hatimu sedikit demi sedikit. Dengan perlahan aku mencoba memasuki duniamu yang sama sekali belum aku kenali.
Kini semua tahu ada setitik rasa bernuansa cinta yang hadir di dalam hidup dan mimipiku saat ini. Kasihlah aku kebahagiaan, berikanlah aku kesempatan untuk mendapatkan perhatianmu walau itu hanya sesaat. Sungguh hanya kamu yang ada di hatiku, langkahku, doaku, senyumku, mimpi indahku, anganku, dan hidupku. Kaulah pelita dalam hidupku yang menerangi tujuanku. Dengan cahayamu, kau terangi bilik hatiku yang dulunya penuh dengan kegelapan. Kau tegakan tubuhku yang dulunya merunduk penuh penyesalan. Kau bangkitkan semangatku untuk menapak jalan yang berliku dalam kehidupan. Jadikanlah aku permaisuri di hatimu dan sisipkanlah bintang berbayang wajahmu di hatiku. Kau buat hidupku penuh warna bagaikan pelangi di kala senja. Peluklah diriku yang hampa akan segalanya dan tuntunlah aku menjalani kehidupan bersama di dunia yang fana tetapi nyata.

suratyang begitu dalam itu ditulis di selembar kertas warna-warni, tinta hitam, dan tanpa ad
Namun sayang, hubungan pacaran kami hanya berlangsung dua bulan. Singkat saja. Dia memutuskanku. Dan otomatis ritual kiriman suratpun terhenti. Ada semacam difungsional hati yang kualami dan berakibat menghilangkan selera makan dalam beberapa hari. Dan yang paling mengejutkan, beberapa minggu kemudian dia berpacaran dengan teman dekatku. Otomatis pula selera makanku hilang sepekan.
Aku tidak pernah membencinya dan aku tidak pernah pula mengutuk teman dekatku. Jurtru aku bersyukur, meski mereka berpacaran, kami masih tetap menjalin hubungan baik.
Tiap kali aku melewati SMP-ku dulu, aku selalu melirik ke arah mushola. Ada rasa masam berbalut manis. Kotak pos surat cinta yang dulu sering aku kunjungi, sekadar menaruh atau mengambil surat. Tanpa prangko tanpa cap pos. Kotak yang pernah aku selipkan janji dan mimpi manis di situ.

Sayang hubungan kami terajalin hanya dalam dua bulan. Kami berpisah dua minggu sebelum aku masuk sma. Entah mengapa aku menyebut dia neptunus. Tidak ada alasan yang begitu jelas. Mungkin dia memang alien dari planet neptunus. Kalaupun memang iya dia adalah alien, maka dia adalah alien tercantik yang pernah aku kenal. aku merasa beruntung karena pernah mengenalnya.


-tiap kali aku lewat depan smp-ku aku selalu melihat mushola. Begitu berdosanya aku yang menjadikan mushola sebagai kotak surat cinta-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

apa ya?