Kali
pertama pacaran sewaktu SMP kelas 9. Itupun mendekati UAN. Memang selama hampir
tiga tahun ketelanjurtampananku dengan susah payah berhasil aku sembunyikan.
Aku memang bener-benar hebat. Aku pacaran dengan anak kelas 7. Namanya…umm…sebut
saja Neptunus. Iya, dia anak kelas 7 yang sedikit lebih cantik dibanding dengan
yang lain. Pacaran kami cukup unik, pada era itu ponsel masih, sangat-sangat-sangat,
dianggap barang mewah. Jadi ada tiga cara kami berkomunikasi.
Pertama,
menggunakan telepon rumah yang tentunya dengan sembunyi-sembunyi biar tidak
dipergoki sama orang tua, karena biaya telepon mahal. Setahuku pada waktu itu
biayanya tergolong murah, 300 perak perlimamenit. Tapi biasanya aku telepon
minimal setengah jam.
Cara kedua
adalah lari ke wartel. Aku menyisihkan uang sakuku demi dapat mendengar suara
Neptunus yang berasal dari seberang telepon. Mendengar suaranya yang kesulitan
bila “R” membuatku ngilu menyenangkan. Kalau kepepet tidak punya uang, terpaksa
cari-cari receh di kolong laci. Laci lemari orang tua tentunya. Lima ratus
perak ternyata mampu berdampak menambah durasi untuk mendengar suaranya selama supuluh
menit. Dari cara kedua ini aku sadar, bener kata orang tua, biaya telepon
mahal.
Cara
terakhir adalah melalui surat. Iya, ketika itu, surat adalah media yang cukup
ampuh untuk memupuk benih-benih cinta yang kami rasa. Ada kesamaan selera dari
kami berdua. Kami sama-sama suka membaca. Di saat teman-teman lain gemar otak-atik
sepeda motor, aku justru gandrung karyanya Kahlil Gibran. Sedang Neptunus gemar
membaca teenlit. Kahlil Gibran dan teenlit memang hebat.
Setiap dua
sampai tiga hari sekali kami berbalas-balasan surat. Surat tidak serta merta
aku berikan kepadanya di depan kelas ketika pulang sekolah. Ada semacam
kesepakatan yang kami lakukan. Pada waktu itu tempat yang PALING JARANG DIKUNJUNGI SISWA LAIN DAN KAMI RASA AMAN adalah mushola jadi kami meletakan
surat di angin-angin dinding mushola, celah yang keduapuluhtujuh dari bawah.
Ya, jadilah mushola sebagai kotak pos kami. aku tidak tahu mengapa kami harus memilih celah keduapuluhtujuh. tak perlu alasan.
Aku sempat
mangap ketika membaca surat cintanya yang pertama. Begitu tulus dan membuatku
susah mingkem. Entah apa sarapan setiap paginya, dia membuatku
klepeg-klepeg-peg. Aku sering masuk angin tiap kali membacanya. Aku masih ingat
lembaran ajaib itu. Surat cinta pertama yang ditujukan kepadaku dari dia dan
satu-satunya dari kaum wanita. seperti ini isinya...
Setelah mendengar
semua kisahmu, ingin rasanya aku berbaur menjadi satu di dalam hidupmu. Aku
ingin menjadi secercah cahaya yang dapat menerangi ruang hatimu sedikit demi
sedikit. Dengan perlahan aku mencoba memasuki duniamu yang sama sekali belum
aku kenali.
Kini semua
tahu ada setitik rasa bernuansa cinta yang hadir di dalam hidup dan mimipiku
saat ini. Kasihlah aku kebahagiaan, berikanlah aku kesempatan untuk mendapatkan
perhatianmu walau itu hanya sesaat. Sungguh hanya kamu yang ada di hatiku,
langkahku, doaku, senyumku, mimpi indahku, anganku, dan hidupku. Kaulah pelita
dalam hidupku yang menerangi tujuanku. Dengan cahayamu, kau terangi bilik
hatiku yang dulunya penuh dengan kegelapan. Kau tegakan tubuhku yang dulunya
merunduk penuh penyesalan. Kau bangkitkan semangatku untuk menapak jalan yang
berliku dalam kehidupan. Jadikanlah aku permaisuri di hatimu dan sisipkanlah
bintang berbayang wajahmu di hatiku. Kau buat hidupku penuh warna bagaikan
pelangi di kala senja. Peluklah diriku yang hampa akan segalanya dan tuntunlah
aku menjalani kehidupan bersama di dunia yang fana tetapi nyata.
suratyang begitu dalam itu ditulis di selembar kertas warna-warni, tinta hitam, dan tanpa ad
Namun
sayang, hubungan pacaran kami hanya berlangsung dua bulan. Singkat saja. Dia
memutuskanku. Dan otomatis ritual kiriman suratpun terhenti. Ada semacam
difungsional hati yang kualami dan berakibat menghilangkan selera makan dalam
beberapa hari. Dan yang paling mengejutkan, beberapa minggu kemudian dia
berpacaran dengan teman dekatku. Otomatis pula selera makanku hilang sepekan.
Aku tidak
pernah membencinya dan aku tidak pernah pula mengutuk teman dekatku. Jurtru aku
bersyukur, meski mereka berpacaran, kami masih tetap menjalin hubungan baik.
Tiap kali
aku melewati SMP-ku dulu, aku selalu melirik ke arah mushola. Ada rasa masam
berbalut manis. Kotak pos surat cinta yang dulu sering aku kunjungi, sekadar
menaruh atau mengambil surat. Tanpa prangko tanpa cap pos. Kotak yang pernah
aku selipkan janji dan mimpi manis di situ.
Sayang hubungan
kami terajalin hanya dalam dua bulan. Kami berpisah dua minggu sebelum aku
masuk sma. Entah mengapa aku menyebut dia neptunus. Tidak ada alasan yang
begitu jelas. Mungkin dia memang alien dari planet neptunus. Kalaupun memang
iya dia adalah alien, maka dia adalah alien tercantik yang pernah aku kenal. aku
merasa beruntung karena pernah mengenalnya.
-tiap kali
aku lewat depan smp-ku aku selalu melihat mushola. Begitu berdosanya aku yang
menjadikan mushola sebagai kotak surat cinta-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
apa ya?