10.27.2011

First Date



Sejak sekian lama, baru kali ini aku ngedate dengan dia. Aku berusaha tampil se-cute mungkin. Hampir setengah jam kuhabiskan di depan cermin, hasilnya…nihil, tidak ada perubahan berarti. Wajahku tetap tampan.


Kami sengaja memilih meja di dekat jendela agar bisa menikmati warna hujan. Meja segi empat untuk berdua. Aku dan dia. Ternyata mimpi selama ini menjadi nyata. Dia berada di depan mataku. Cantik.

“kamu sudah baca?” tanyaku memecah kekakuan.

Dia berfikir sejenak. Bola bening matanya menyeripit, seolah mencari ingatan yang terlupakan, “Owh…sudah. Spesifikasinya yang mana?”

“Yang lollypop” tegasku.

“Ehm…sajak-sajak, perempuan, status-status yang pernah kamu tulis.”

Aku terkejut, ternyata selama ini dia memperhatikan akun jejaring sosialku.

“Kamu tahu mengapa gula jawa sekarang tidak manis? Karena manisnya telah kamu curi.” godaku untuk melihat senyumnya.

“ahh…itu statusmu yang pernah kamu tulis di facebook.”

Aku nyengir. Dia benar-benar memperhatikanku selama ini.

“Kamu terharu, tidak?”, godaku sekali lagi.

“Kamu hadirkan dia untuk menggantikanku. Luka ini sudah membeku, tak mencair”, ucapnya yang begitu spontan tetapi tertahan.

Aku diam. Kupandang matanya. “sebenarnya saat aku memperkenalkan dia kepadamu kami sudah putus.”

“Tak lama setelah itu kamu memperkenalkan dia sebagai pacarmu pada temanmu.” Senyumnya berubah.

kuambil ponsel dalam saku. Kuperlihatkan beberapa pesan singkatnya yang dia kirimkan sebulan lalu.

“kamu masih ingat pesan singkatmu itu? Kamu menyuruhku meninggalkanmu. Dan sekarang? Aku tidak pernah melewati garis batas yang kamu buat.”

“karena kamu saat itu menggantung dua orang. Dan dia yang kamu pilih. Yang sejujurnya bukan yang seharusnya, kamu ingat pesanmu itu?” tanyanya balik.

“sebagai laki-laki, sejujurnya aku tidak ingin kehilangan keduanya.”

“dan berbahagialah karena telah bersama dengan dia. Orang yang tak ingin kamu melepasnya.” Wajahnya berpaling ke jendela. Melihat hujan yang seolah-olah keluar dari matanya.

“dan sampai saat inipun aku tak pernah melewati garis batas yang kamu buat”

“karena kamu memang tidak pernah berkenan masuk ke kawasanku.”

“kamu tahu bagaimana sulitnya mendapatkan perhatianmu? Tahu? Itu sama sulitnya melupakanmu.” Giliran senyumku yang berubah.

“dan kamu tahu benar bagaimana menghancurkan hati wanita.”

“kamu tahu berapa kali hati laki-laki (tampan) hancur, kemudian disusun kembali, mencoba bertahan dengan kepingan yang tersisa? Hampir dua tahun…dua tahun, isinya hanya kamu, kamu, KAMU. Sudah berapa kali kamu runtuhkan?”

“berapa kali kamu dengan orang selain aku selama dua tahun itu? Berapa kali memintaku dengan resmi, jelas tegas, bukan lewat tanda, selama dua tahun itu?”

“berulangkali aku menemukan Amerika kemudian menyakitinya. Kamu tahu karena apa? Aku selalu cerita tentang Hindia, kamu tahu? Setiap Amerika yang kusinggahi tahu semua tentang Hindia. Kamu tahu berapa air dalam mata setiap Amerika yang keluar ketika aku bercerita tentang Hindia? Kamu pasti tahu karena mereka juga wanita, sama sepertimu.”

“dan kamu tahu hancurnya Hindia saat kamu besama Amerika-amerika?”

“seperti apa? Seperti masa lalumu kehilangan Vasco da Gama, orang kali pertama yang menemukan Hindia?”

“Lebih sadis.”

Tatapan matanya menusuk pernapasanku.

“Aku yakin, rasa sayangku padamu lebih besar daripada rasa sayangmu kepadaku, dan ketika patahpun begitu.”

“Mungkin, karena aku tidak tahu.” Nada suaranya pelan.

“dan kamu tidak pernah tahu bagaimana rasanya dibodoh-bodohin oleh teman-temanmu sendiri karena mencintai seseorang.”

“Hai!”, sanggahnya.

“Apa?”

“sepertinya aku lebih dulu mengalaminya.”

“lebih dulu? Sejak kapan?”

“saat aku mencintai Vasco da Gama”, tegasnya.

“ya, dan aku saat mencintai Hindia”, tegasku balik.

“bahkan jauh sebelum kamu mengenal Hindia.”

Aku menghela nafas, “sebenarnya kitalah yang lollypop, timbul tenggelam terus menerus kemudian hilang, yang tersisa tinggal batangnya saja.”

Aku dan dia diam. Hening yang tercipta sejenak. Pertengkaran ini tak pernah kuduga. Sepertinya dia menantikan saat ini.

“Dan alam semesta bersekongkol merelakanmu.”ungkapnya sesak.

“Mengapa nasib selalu tidak berpihak pada orang yang setia?”

“Tidak semua.”

“Lalu bagaimana dengan mereka yang tidak dipihaki nasib? Atau bagaimana mereka yang mempunyai perasaan yang sama tetapi waktu tak pernak memihak?”

Dia berpikir.

“Bertanya padaku sama dengan bertanya pada batu.”

“sepertinya dari dulu hatimu membatu untukku.”

“kamu memang tak pernah paham. Nyatanya kamu masih menilaiku batu.”

“tragisnya, sampai sekarangpun aku masih mencintai batu.”

“dengan menggandeng bunga.”

“apa maksudmu?”

Dia mendiam.

Kuamati sekitar. Hujan di balik jendela menyisakan rintik saja. Nafas kuatur sedemikian hingga tidak mencerminkan suasana organ di dalamnya.

“kamu pernah rindu kepadaku?”, tanyaku yang mulai tertahan.

“Pernah.”

“pernah kamu mengucapkan sayang atau sekadar membalas kata cinta kepadaku?”

“tidak pernah aku mengucapkannya kepadamu.”

“lalu bagaimana aku bisa tahu perasaanmu, sedang indra perasaku tak peka? Kamu tahu sendiri, aku kaum yang mengandalkan logika!”

Pandangannya tertunduk. Dia menyembunyikan sesuatu dibalik matanya yang berkaca.

Sejenak, tak ada kata yang terselip. Aku memilih diam daripada mengutarakan bentuk risauan hatiku. Aku menunggunya berbicara. Namun hingga dipenghujung pertemuan dia tidak memilih kata untuk mewakil rasa, tetapi lewat mata.

Pertemuan yang selama ini kuimpikan, mengalir begitu saja. Tidak ada beda dengan jeda waktu selama ini tanpa dia. Dia memilih pergi menghilang bersama hujan yang tinggal sebentar. Berulang-ulang aku menghela napas. Aku berdiri, sebelum pergi, kuucapkan selamat ulang tahun untuk diriku sendiri. Dengan berakhirnya pertemuan ini aku berusaha untuk tidak mengharapkannya (lagi).

Sepuluh menit kemudian aku kembali. Aku lupa belum bayar.

10 komentar:

  1. bang asep.....bagus sekali.....

    BalasHapus
  2. lucu, mbulet, bingung, apik,

    BalasHapus
  3. awal yang sedikit menyayat hati

    BalasHapus
  4. hayalan itu (secara tak sengaja) sudah menyakiti salah satu objek

    BalasHapus
  5. satu subjek dan dua objek, atau apakah yang satu hanya sebagai pelengkap?

    BalasHapus
  6. waaah... ternyata juga update ngeblog... aku follow yo kang... #thumb#

    BalasHapus
  7. ehmmm, aku mw jadi aktrisnya kalo SeCrit ini diadegankan, hahahahaha

    BalasHapus
  8. CPhtr:syaratnya badan kamu perlu diperbantet dulu

    BalasHapus

apa ya?