7.19.2013

misteri di balik sensasi memarut kelapa

aku lupa ternyata adel, adhekku, sudah masuk smp. jenjang kehidupan baru bagi anak remaja. sebagai kakak yang baik (dengan terpaksa) aku menelpon dia.
aku: haloooooo.....assalamualaikum dellllllll!!!! (sambil teriak kenceng)
di seberang telepon: waalaikum salam, tampan...(ternyata suara nyokap)
aku: lho...mama, hehehe

nyokap: ada apa, tampan?
aku: adel mana, ma? sudah masuk smp, kah?
nyokap: sudah, nih tadi baru pulang. deelllllll...(manggil adel sambil teriak. terdengar suara adel tergopoh-gopoh)...oiya, tampan kamu wisudanya september tanggal berapa?
adel: kog september, ma? (adel ikut nimbrung alias teleponnya di-loudspeaker)
nyokap: la terus, kapan?
(setelah nyokap berdebat beberapa saat dengan adel)
mama: owh..oktober ya tampan?
aku: !@#$%^&*...iya, ma.....(hhmmm...nyokap terlalu banyak bergaul dengan adel)
..............setelah 27 menit lebih, ngobrol tentang bulan puasa, kekawatiran adel menjalani kekejaman dunia smp, keponakanku yang baru yang lupa namanya, harga sembako semakin mahal, adel puasanya udah bolong satu, rencana puasa adel yang pengen nambah bolongnya dan sampai ke masalah dapur.......
aku: sana! ke dapur del. buat mi goreng. katanya pengen nambah bolongnya?
adel: iya, mas tapi ndak sekarang. hari ini rencanaku mau puasa penuh (nadanya penuh bangga)
mama: eh, tampan...(nyokap motong)
aku: iya, ma?
nyokap: tempat duduk yang di bawah jendela dapur nggak ada yang nempatin lo...
aku: iya, kah ma? ada kelapa lagi yang perlu diparut, kah?
nyokap: iya, adel rewel terus kalau tak suruh marut kelapa
aku: hahahahaha
nyokap: hahahahaha
adel: hahahahahahaha
(aku dan nyokap tertawa bersama dan adel...aku tidak tahu dia menertawakan apa)


-aku tidak ingat rutinitas bulan puasa dua tahun yang lalu. setiap sore aku menjadi asisten nyokap di dapur. tugas utamaku...iya, marut kelapa kemudian memerasnya menjadi santan. aku tidak ingat bagaimana sensasi ujung-ujung jari terparut perih. aku tidak ingat setiap sore duduk di bawah jendela dapur menghadap nyokap yang sedang menanak nasi atau menggoreng tahu sembari sesekali gosipin tetangga. aku tidak ingat diajari nyokap bagaimana membedakan panci dan dan minyak tanah, bagaimana cara mematikan kompor dan membalik tahu dari penggorengan agar tidak gosong. aku tidak ingat kapan terakhir sebelumnya aku mengalami kedekatan dengan nyokap seperti itu. memang hanya rutinitas biasa yang mungkin dialami puluhan ribu remaja di Indonesia. tetapi bagi aku sendiri yang nyaris dua puluh tiga tahun menghirup oksigen lewat hidung maupun mulut jauh dari ratu yang telah mengandungku, aku tidak punya cukup alasan untuk tidak mengingat sensasi memarut kelapa bersama nyokap, mama, ibu-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

apa ya?