aku lupa ternyata adel, adhekku, sudah masuk smp. jenjang
kehidupan baru bagi anak remaja. sebagai kakak yang baik (dengan terpaksa) aku
menelpon dia.
aku: haloooooo.....assalamualaikum dellllllll!!!! (sambil
teriak kenceng)
di seberang telepon: waalaikum salam, tampan...(ternyata
suara nyokap)
aku: lho...mama, hehehe
nyokap: ada apa, tampan?
aku: adel mana, ma? sudah masuk smp, kah?
nyokap: sudah, nih tadi baru pulang. deelllllll...(manggil
adel sambil teriak. terdengar suara adel tergopoh-gopoh)...oiya, tampan kamu
wisudanya september tanggal berapa?
adel: kog september, ma? (adel ikut nimbrung alias
teleponnya di-loudspeaker)
nyokap: la terus, kapan?
(setelah nyokap berdebat beberapa saat dengan adel)
mama: owh..oktober ya tampan?
aku: !@#$%^&*...iya, ma.....(hhmmm...nyokap terlalu
banyak bergaul dengan adel)
..............setelah 27 menit lebih, ngobrol tentang bulan
puasa, kekawatiran adel menjalani kekejaman dunia smp, keponakanku yang baru yang
lupa namanya, harga sembako semakin mahal, adel puasanya udah bolong satu,
rencana puasa adel yang pengen nambah bolongnya dan sampai ke masalah
dapur.......
aku: sana! ke dapur del. buat mi goreng. katanya pengen
nambah bolongnya?
adel: iya, mas tapi ndak sekarang. hari ini rencanaku mau
puasa penuh (nadanya penuh bangga)
mama: eh, tampan...(nyokap motong)
aku: iya, ma?
nyokap: tempat duduk yang di bawah jendela dapur nggak ada
yang nempatin lo...
aku: iya, kah ma? ada kelapa lagi yang perlu diparut, kah?
nyokap:
iya, adel rewel terus kalau tak suruh marut kelapa
aku: hahahahaha
nyokap: hahahahaha
adel: hahahahahahaha
(aku dan nyokap tertawa bersama dan adel...aku tidak tahu
dia menertawakan apa)
-aku tidak ingat rutinitas bulan puasa dua tahun yang lalu.
setiap sore aku menjadi asisten nyokap di dapur. tugas utamaku...iya, marut
kelapa kemudian memerasnya menjadi santan. aku tidak ingat bagaimana sensasi
ujung-ujung jari terparut perih. aku tidak ingat setiap sore duduk di bawah
jendela dapur menghadap nyokap yang sedang menanak nasi atau menggoreng tahu
sembari sesekali gosipin tetangga. aku tidak ingat diajari nyokap bagaimana
membedakan panci dan dan minyak tanah, bagaimana cara mematikan kompor dan
membalik tahu dari penggorengan agar tidak gosong. aku tidak ingat kapan
terakhir sebelumnya aku mengalami kedekatan dengan nyokap seperti itu. memang
hanya rutinitas biasa yang mungkin dialami puluhan ribu remaja di Indonesia.
tetapi bagi aku sendiri yang nyaris dua puluh tiga tahun menghirup oksigen
lewat hidung maupun mulut jauh dari ratu yang telah mengandungku, aku tidak punya cukup alasan untuk tidak mengingat sensasi memarut kelapa bersama nyokap, mama,
ibu-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
apa ya?