Ini cerita lama. Bukan! Maksudku perasaan yang terlalu lama tersimpan. Aku mengerti keputusanmu atas penolakan kepadaku. Aku mengerti sekali alasanmu. Kamu belum siap mempunyai seorang kekasih yang telanjur tampan seperti aku. Belum siap menerima konsekuensi
harus makan hati setiap hari karena melihatku digoda oleh cewek-cewek yang beranjak remaja atau selalu curiga tiap kali aku jalan-jalan bersama cowok yang baru kukenal. Terlihat setiap kali bertemu selalu kau tundukan pandangan atau berpura-pura mengalihkan kedua biji matamu kearah pos satpam. Tak perlu kawatir aku tidak akan menjadi seorang pedophil semacam robot gedek atau peran Tora Sudiro dalam film Arisan. Di setiap malam aku masih memasang kincir rindu, yang terbuat dari kertas, di bawah jemuran supaya angin memutarnya dan menggerakan indra perasa yang kamu punya. Namun hasilnya setiap pagi selalu berakhir pada tempat sampah.
Aku mengerti mengapa kamu mengurungkan niat menemuiku di gerbong kereta ekonomi Sri Tanjung jurusan Surabaya-Banyuwangi. Aku tahu kamu saat itu bingung, nervous berlebih dan malu karena rona pipimu belum terbasuh air seperti potongan martabak yang baru ditiriskan dari penggorengan. Tidak sedikit pun aku mempermasalahkan fermentasi minyak kelapa itu. Bagiku kamu masih saja seperti ice cream vanila, lembut, manis, dingin, dan setiap gigitannya mengandung misteri. Aku masih ingat di gerbong baja, yang lebih mirip barak pengungsi korban korupsi, kamu memilih pura-pura tidur di tiga atau empat deret bangku dari tempat aku berdiri. Apa kita akan seperti jalan kereta? Sejajar tapi tak pernah bertemu? Dimana letak indra perasa wanita yang kamu punya? Mengapa kamu masih bersikeras bahwa aku terlalu tampan untuk kamu miliki? Satu hal yang kusayangkan, kita sekereta tapi tidak melihat bulan yang sama.
Aku mengerti keputusanmu atas penolakan kepadaku untuk ketiga kalinya. Namun aku sempat terkejut mendengar kabar kamu telah mempunyai kekasih. Ah, betapa kasihan pria itu hanya untuk kamu jadikan pelarian. Aku memakhlumi usaha beratmu untuk melupakanku. Tetapi apa kamu bisa bayangkan derita pria itu bila mengetahui ternyata kamu masih mempunyai rasa terhadapku? (efek jangka panjang dari hal ini: dia selalu menangis di kamar mandi)
Aku mengerti betapa rumit bila berada dalam posisimu. Seperti menghadapi tragedi buah simalakama di simpang empat yang lampu lalulintas menyala hijau. Kamu harus segera mengambil keputusan,
(1) kembali padaku dan menerima semua ketelanjurtampananku,
(2) tetap bersamanya untuk melupakanku, atau
(3) menjadi wanita normal yang secara diam-diam mengagumiku.
Aku mengerti dengan semua ini. Aku terima keputusanmu. Kalau dulu sehabis hujan dari balik jendela kos aku pernah berdoa, “Ya Tuhan, semoga aku bisa bersamanya, amin.” Tetapi setelah melalui proses P3K (pendekatan, pengharapan, pengejaran dan kepasrahan) aku hanya bisa berdoa, “Semoga kamu bersama orang yang melihatmu sama dengan kejujuran, meluangkan satu menit dikesibukannya sekadar memandangmu penuh ketulusan, semoga seseorang itu menawarkan kebahagiaan yang bisa menggantikan masa lalumu yang sulit kamu lupakan. Amin?” Jangan salahkan aku bila kamu tidak bisa hidup bersamaku.
Oya, aku lupa. Namaku Asep Gosaki Nata Miharja salah satu mahasiswa di perguruan tinggi kebanggaan bangsa di Surabaya. Ini alamat facebook-ku http://facebook.com/telanjurtampan. Jangan lupa di-add, ya.
harus makan hati setiap hari karena melihatku digoda oleh cewek-cewek yang beranjak remaja atau selalu curiga tiap kali aku jalan-jalan bersama cowok yang baru kukenal. Terlihat setiap kali bertemu selalu kau tundukan pandangan atau berpura-pura mengalihkan kedua biji matamu kearah pos satpam. Tak perlu kawatir aku tidak akan menjadi seorang pedophil semacam robot gedek atau peran Tora Sudiro dalam film Arisan. Di setiap malam aku masih memasang kincir rindu, yang terbuat dari kertas, di bawah jemuran supaya angin memutarnya dan menggerakan indra perasa yang kamu punya. Namun hasilnya setiap pagi selalu berakhir pada tempat sampah.
Aku mengerti mengapa kamu mengurungkan niat menemuiku di gerbong kereta ekonomi Sri Tanjung jurusan Surabaya-Banyuwangi. Aku tahu kamu saat itu bingung, nervous berlebih dan malu karena rona pipimu belum terbasuh air seperti potongan martabak yang baru ditiriskan dari penggorengan. Tidak sedikit pun aku mempermasalahkan fermentasi minyak kelapa itu. Bagiku kamu masih saja seperti ice cream vanila, lembut, manis, dingin, dan setiap gigitannya mengandung misteri. Aku masih ingat di gerbong baja, yang lebih mirip barak pengungsi korban korupsi, kamu memilih pura-pura tidur di tiga atau empat deret bangku dari tempat aku berdiri. Apa kita akan seperti jalan kereta? Sejajar tapi tak pernah bertemu? Dimana letak indra perasa wanita yang kamu punya? Mengapa kamu masih bersikeras bahwa aku terlalu tampan untuk kamu miliki? Satu hal yang kusayangkan, kita sekereta tapi tidak melihat bulan yang sama.
Aku mengerti keputusanmu atas penolakan kepadaku untuk ketiga kalinya. Namun aku sempat terkejut mendengar kabar kamu telah mempunyai kekasih. Ah, betapa kasihan pria itu hanya untuk kamu jadikan pelarian. Aku memakhlumi usaha beratmu untuk melupakanku. Tetapi apa kamu bisa bayangkan derita pria itu bila mengetahui ternyata kamu masih mempunyai rasa terhadapku? (efek jangka panjang dari hal ini: dia selalu menangis di kamar mandi)
Aku mengerti betapa rumit bila berada dalam posisimu. Seperti menghadapi tragedi buah simalakama di simpang empat yang lampu lalulintas menyala hijau. Kamu harus segera mengambil keputusan,
(1) kembali padaku dan menerima semua ketelanjurtampananku,
(2) tetap bersamanya untuk melupakanku, atau
(3) menjadi wanita normal yang secara diam-diam mengagumiku.
Aku mengerti dengan semua ini. Aku terima keputusanmu. Kalau dulu sehabis hujan dari balik jendela kos aku pernah berdoa, “Ya Tuhan, semoga aku bisa bersamanya, amin.” Tetapi setelah melalui proses P3K (pendekatan, pengharapan, pengejaran dan kepasrahan) aku hanya bisa berdoa, “Semoga kamu bersama orang yang melihatmu sama dengan kejujuran, meluangkan satu menit dikesibukannya sekadar memandangmu penuh ketulusan, semoga seseorang itu menawarkan kebahagiaan yang bisa menggantikan masa lalumu yang sulit kamu lupakan. Amin?” Jangan salahkan aku bila kamu tidak bisa hidup bersamaku.
Oya, aku lupa. Namaku Asep Gosaki Nata Miharja salah satu mahasiswa di perguruan tinggi kebanggaan bangsa di Surabaya. Ini alamat facebook-ku http://facebook.com/telanjurtampan. Jangan lupa di-add, ya.
kasihan bgt...c...ditolak 3x.... hehe...
BalasHapusAsep....d surabaya tu...ada FLP gag..?? itu Forum Lingkar Pena...
itu buat para penulis",,... cpa tau u bisa buat cerita...truz terbit'in buku...
hehe
wkakakkaka lucu2 haru dehhhhhhh.mgkn tu cew matanya tertu2p jd g bs lhat wajah aslimu mas,:DDDDD
BalasHapusheummm....
BalasHapusaku butuh tisue toilet
sempet netesin air mata di baris kata2 akhir... 1 menit untuk memandang penuh ketulusan,,, aku lagi cari orang itu.. :)
BalasHapuswaduh...masa sempet netesin air mata,
Hapusjadi ikut terharu juga...
bisa nemuin nggak ya?
do'akan bisa... aku berharap bgt.
Hapusamin..amin...
Hapussemoga aku tetep telanjur tampan ya