Apa jadinya bila manusia di masa
depan direkayasa genetika sedemikian rupa hingga hanya mampu berucap seratus
lima puluh kata tiap hari? Tentu kita akan mempertimbangkan begitu matang untuk
menggunakan jatah kata kita agar tidak sia-sia. Selebihnya kita akan dituntut
untuk memenuhi keinginan dengan tindakan bukan hanya sekadar membuang
kata-kata.
Di masa depan pasti teknologinya
maju. Segala sesuatu menggunakan virtual sentuhan. Teknologi akan mempermudah
kita melakukan aktifitas keseharian serba dengan gerakan. Entah dengan lentikan
jari atau dengan kedipan mata kita. Tetapi yang jelas bukan dengan gerakan
kedua bibir kita yang mengeluarkan suara. Bila kamu bertanya mengapa teknologi
di masa depan lebih maju dari pada sekarang itu karena para ilmuan bekerja
dengan tangan dan otaknya bukan dengan mulutnya. Karena jatah untuk berbicara
manusia seratus lima puluh kata tiap hari. Tidak lebih.
Pendidikan mengajarkan para siswanya
untuk membaca tanpa bersuara. Dalam hati. Otak dan hati mereka yang mencerna
aritmatika, fisika, kimia, maupun yang lainnya. Mereka akan diajari bahasa tuna
wicara agar mudah berinteraksi mengutarakan pendapat atau saling bercanda ria.
Dengan begitu porsi membaca mereka lebih banyak, wawasan lebih luas, dan
tentunya perpustakaan akan menjadi jantung dari dunia pendidikan. Menjadi
denyut kehidupan yang tak pernah berhenti. Tidak seperti sekarang yang sekarat
dan nyaris mati.
Para remaja, dewasa, ataupun orang
tua, semua akan suka membuat buku harian. Menceritakan keluh kesahnya melalui
tulisan. Ibu-ibu rumah tangga menghabiskan waktu luang dengan menulis. Tidak
seperti sekarang, merumpi berjam-jam. Terkadang membuat hati orang terluka
karena kata yang seharusnya tidak perlu digunakan.
Lalu apa yang akan kita lakukan di
masa depan? Tentunya aku tidak akan mengobral gombal di depanmu. Aku akan
menggunakan jatah kataku seperlunya. Memesan makanan di restauran favorit kita
tak perlu beradu debat karena kita sudah menentukan apa yang akan kita makan
sebelum berangkat. Kita tinggal tunjuk di daftar menu, memilih soto lamongan,
nasi pecel, kornet, dua lemon tea. Tidak ada kata hanya sesekali saling
melempar senyuman. Aku tak ingin menyia-nyiakan kata. Bila jatahku masih ada,
aku dengan bangga akan berkata, “aku menggunakan seratus sepuluh kata hari
ini.” Dan aku tahu kamu sudah menghabiskan jatah katamu. Aku akan menatapmu dalam, kemudian berkata, “aku
mencintaimu” sebanyak lima belas kali. Setelahnya kita kan menghabiskan malam
dengan bergandeng tangan dan sesekali saling memandang. Karena kita saling tahu
kata tak mampu mengungkapkan perasaan kita.
“Selamat
ulang tahun.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
apa ya?