Aku duduk di bangku peron terminal Purbaya. Clingak-clinguk masih
menunggu nggak ada temennya. Panas menyergap ke segala penjuru. Kayaknya
nereka sedang bocor halus, atau gara-gara matahari membuka cabang di
mana-mana.
Semua orang tetap pada aktivitasnya. Begitu pula
denganku, duduk, membaca buku Cinta Brontosaurusnya Raditya Dika sambil
pikiran berkeliaran ke mana-mana. Kalau pikiranku ini diibaratkan tinja,
tentunya udah dibuang ketika pertama kali di keluarkan.
Sebenarnya
aku di sini, duduk manis kayak anak SD, sapa yang paling anteng, dia
pulang duluan tu, buat ngitung frekuensi orang-orang yang lalu lalang di
terminal Purbaya. Kemudian hasilnya disetorin kerumah sakit jiwa
sebagai tugas akhir buat nentuin lulus nggaknya jadi orang gila (nggak
banget!!)