Aku bergegas masuk rumah sebelum
hujan turun deras. Benar saja, orang rumah menunggu kedatanganku. Meraka
menyambutku penuh haru. Kakekku yang sudah tua memelukku penuh bangga disusul
budheku yang tak mampu menahan air mata. Bocah dungu yang dulu suka cari ikan
di kali sebelah rumah kini sudah pulang membawa bangga nama keluarga. Mungkin ini
ekspresi berlebih menyambut salah seorang cucu/keponakan yang baru saja wisuda
strata pertama (dan mungkin satu-satunya) tapi tak apalah untuk ukuran sebuah
keluarga yang tinggal di desa.
2.29.2012
2.17.2012
tiada lagi yang harus kutunggu
. . . .
akhirnya aku sadar
bahwa tak semua pertanyaan harus dijawab
kau bukan matahari
kau hanya pelangi
hadir dengan sejuta warna kemudian pergi
tak ada lagi cerita tentang anjing-anjing kita
tentang aroma wangi bunga-bunga di taman melati sukma
kau telah membantuku menemukan diriku
terima kasih sayangku
manisku
terima kasih
akhirnya aku sadar
bahwa tak semua pertanyaan harus dijawab
kau bukan matahari
kau hanya pelangi
hadir dengan sejuta warna kemudian pergi
tak ada lagi cerita tentang anjing-anjing kita
tentang aroma wangi bunga-bunga di taman melati sukma
kau telah membantuku menemukan diriku
terima kasih sayangku
manisku
terima kasih
Langganan:
Komentar (Atom)