Selayaknya mahasiswa yang abnormal, tentunya aku pernah mengerjakan tugas yang dimandatkan oleh "sesepuh guru". Ada tiga sikap dalam melaksanakannya, yaitu, (1) sikap tanggap cakap:mahasiswa berkunjung ke perpustakan dan menghabiskan sisa-sisa waktu luang untuk mengerjakan sambil sesekali menguap,
(2) sikap hemat rame-rame:mahasiswa berkumpul di kost atau rumah salah satu teman sekelas demi mengerjakan tugas sambil memasang wajah dhuafa yang kelaparan, atau (3) sikap amnesia prokastinasti editing copy paste:mahasiswa pura-pura lupa sesaat, baru ingat ketika tugas tersebut dikumpulkan besok pagi dan ujung-ujungnya meminjam hasil tugas milik teman sebagai referensi utama (bukan aku banget). Sekadar saran, sikap (2) dan (3) sangat briliant bila dikombinasikan.
(2) sikap hemat rame-rame:mahasiswa berkumpul di kost atau rumah salah satu teman sekelas demi mengerjakan tugas sambil memasang wajah dhuafa yang kelaparan, atau (3) sikap amnesia prokastinasti editing copy paste:mahasiswa pura-pura lupa sesaat, baru ingat ketika tugas tersebut dikumpulkan besok pagi dan ujung-ujungnya meminjam hasil tugas milik teman sebagai referensi utama (
Salah satu mata kuliah yang memberikan tugas suci tersebut
adalah apresiasi puisi pada semester 3. Mata kuliah ini berkaitan erat dengan
dunia per-puisi-an (namanya juga apresiasi puisi kalau apresiasi toilet yang
dibahas, ya, tentang kelayakan tempat untuk meluapkan hajat yang tak
terbendungkan setiap saat). Tugas suci ini berupa membuat buku antologi
kumpulan puisi dari kelas kami. Judul dari buku ini adalah Sajak-sajak SEMPRUL pada 23:59.
Semprul adalah akronim dari sedulur mahasiswa pendidikan reguler unggul (yaitu
kelas kami). Awalnya aku mempunyai usul untuk memberi judul Simpang Siur
Toilet. Berhubung ini adalah kumpulan puisi bukan tumpukan “hajat” maka niat
itu pun aku urungkan, karena aku rasa ketidakjelasan toilet kurang memiliki nilai
komersil. Di buku ini setiap mahasiswa berkewajiban menulis tiga puisi karya
sendiri serta dilengkapi otobiografi. Ehm...berikut adalah tiga puisi dengan
susah payah aku buat yang ditemani secangkir kopi susu:
Diam-diam
coba
kau tanyakan pada pagar besi
yang
ada di depan rumahmu
pasti
dia akan bercerita tentang
lelaki
berupa tampan jalan menunduk
sesekali
mencuri pandang kearahnya
mungkin
dia akan berceloteh tentang getaran aneh
tiap
kali lelaki itu melewatinya,
jangankan
untuk memasukinya
sekadar
mengetuk saja lelaki itu tak berani
coba
kau tanyakan
pasti
pagar besi depan rumahmu
hanya
tersenyum
seperti
senyum seorang pria tua
yang
mendapati putranya sedang
mengenal
cinta
Karena Aku Karnamu
suatu
hal paling kubenci
ketika
aku harus menjawab atau
bercerita
tentang Batara Surya
seperti
apa kebiasaannya?
menegur
pagi dengan keramahan sahaja?
apa
yang tak kusuka darinya?
apakah
aku mirip dengannya?
pernahkah
aku ditepuk pundakku sembari berkata
“kau
harus menjadi kesatria bijaksana!” atau
sekadar
mengusap peluhku atas rona kewibaannya?
mengapa
pertanyaan sesederhana itu
begitu
menyiksa batinku yang kemarau?
mengapa
pula garis Hyang Widi terasa
ranum
blimbing wuluh?
Betara
Surya beri aku petuahmu
agar
aku mampu menjawab pertanyaan konyol itu!!
beri
aku cerita yang bisa kubanggakan kepada mereka saat aku terjatuh
ketika
kali pertama mengendarai kereta bersamamu!
beri
aku mantra penangkal kutukan Parasurama
agar
aku mampu menghindari Pasupati!
atau
beri aku zirah keagunganmu
agar
aku menjadi kesatria sejati!
Betara
surya, sekali lagi aku meneguk ranum blimbing wuluh!
Ikrar Kami
kami
adalah orang-orang yang terseleksi
kumpulan
dari yang tersakiti
hingga
yang mencari kepuasaan hati
jangan
salahkan kami
bila
kami mencintai lebih dari satu jiwa
bukan
maksud kami menduakan hati
tapi
satu tujuan kami
mencari
cinta sejati
nb:kalau kalian menemukan buku dengan sampul seperti gambar disamping di toko buku atau secara
tidak sengaja (lebih tepatnya, sial) menemukannya di perpustakaan, jangan lupa
lihat potoku, pake baju putih terus mangap mirip iklan obat pembasmi hama. Pokoknya
yang tampan!
Puisi pertama aku tujukan kepada seseorang yang selama dua
tahun belakang membuat aku insomnia akut. Sajak yang kedua adalah jeritan
hatiku yang menyimpan sekam dalam genggam. Nahh…Ikrar Kami aku tujukan kepada teman-teman SMA, sekadar nostalgia
bahwa dulu aku pernah jadi pelindung para “buaya”.
Menurutku, yang paling seru
adalah bagian otobiografi dari masing-masing mahasiswa. Di bagian ini setiap
dari kami sedikit menceritakan siapa sebenarnya kami. Ada yang bercerita bahwa dia berasal dari kota ledre tetapi tidak suka ledre dan sangat membenci kentang serta semua makanan yang berbahan kentang, ada yang curhat mengenai hiruk pikuk
kehidupan keluarganya, pamer kalau tidur tidak pernah ngiler, menulis
otobiografinya malah seperti format biodata melamar pekerjaan ngubeg-ngubeg kandang panda, punya hobi, sleeping, jumping,
rolling, mancing, maling, nungging, balapan motor liar atau berkeliaran dari
kost satu ke kost yang lain, ada yang kebingungan tentang jati dirinya selama ini,
kekurangan motivasi untuk berkuliah karena kebanyakan suting, serta kebiasaan-kebiasaan
tidak wajar lainnya. Sedang aku sendiri justru bercerita
tentang pengalaman memakan bangku sekolah
secara brutal.
Kami hanya sekadar bercerita lewat bentuk sastra. Tentang bagian
hitam dari kami. Tentang rahasia kecil kehidupan dengan Tuhan. Tentang mimpi-mimpi
kami selama ini. Karya sastra, selalu memberikan keindahan baru bagi
penikmatnya. Sastra dalam perkembangannya selalu diharapkan memberikan “oksigen-oksigen”
yang dibutuhkan dalam kehidupan, untuk manusia dapat mengungkapkan emosi,
kreasi, dan mimpi melalui seni, sastra, ataupun puisi. Setelah merenung dengan sakral
dan sarat akan intuisi, inilah produk pertama kelas Pendidikan Reguler 2009 (PA
’09) Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Unesa yang berupa buku antologi puisi
dengan judul “Sajak-sajak SEMPRUL pada 23:59”. Sebanyak 37 mahasiswa dikali 3
sama dengan 111 karya sastra puisi. Waow, sebuah angka tiga digit penuh makna
sebagai hasil kerja. Ya, kami hanya mencoba sekadar memperindah lorong-lorong
sastra dan membuat hidup lebih bijaksana. Terima kasih Tuhan, telah memberi
karunia berupa “paket” keluarga dengan warna berbeda-beda. Semoga bermanfaat
bagi Indonesia kita.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
apa ya?