9.25.2011

Sajak-sajak SEMPRUL pada 23:59

Selayaknya mahasiswa yang abnormal, tentunya aku pernah mengerjakan tugas yang dimandatkan oleh "sesepuh guru". Ada tiga sikap dalam melaksanakannya, yaitu, (1) sikap tanggap cakap:mahasiswa berkunjung ke perpustakan dan menghabiskan sisa-sisa waktu luang untuk mengerjakan sambil sesekali menguap,
(2) sikap hemat rame-rame:mahasiswa berkumpul di kost atau rumah salah satu teman sekelas demi mengerjakan tugas sambil memasang wajah dhuafa yang kelaparan, atau (3) sikap amnesia prokastinasti editing copy paste:mahasiswa pura-pura lupa sesaat, baru ingat ketika tugas tersebut dikumpulkan besok pagi dan ujung-ujungnya meminjam hasil tugas milik teman sebagai referensi utama (bukan aku banget). Sekadar saran, sikap (2) dan (3) sangat briliant bila dikombinasikan.


Salah satu mata kuliah yang memberikan tugas suci tersebut adalah apresiasi puisi pada semester 3. Mata kuliah ini berkaitan erat dengan dunia per-puisi-an (namanya juga apresiasi puisi kalau apresiasi toilet yang dibahas, ya, tentang kelayakan tempat untuk meluapkan hajat yang tak terbendungkan setiap saat). Tugas suci ini berupa membuat buku antologi kumpulan puisi dari kelas kami. Judul dari buku ini adalah Sajak-sajak SEMPRUL pada 23:59. Semprul adalah akronim dari sedulur mahasiswa pendidikan reguler unggul (yaitu kelas kami). Awalnya aku mempunyai usul untuk memberi judul Simpang Siur Toilet. Berhubung ini adalah kumpulan puisi bukan tumpukan “hajat” maka niat itu pun aku urungkan, karena aku rasa ketidakjelasan toilet kurang memiliki nilai komersil. Di buku ini setiap mahasiswa berkewajiban menulis tiga puisi karya sendiri serta dilengkapi otobiografi. Ehm...berikut adalah tiga puisi dengan susah payah aku buat yang ditemani secangkir kopi susu:




Diam-diam

coba kau tanyakan pada pagar besi
yang ada di depan rumahmu
pasti dia akan bercerita tentang
lelaki berupa tampan jalan menunduk
sesekali mencuri pandang kearahnya
mungkin dia akan berceloteh tentang getaran aneh
tiap kali lelaki itu melewatinya,
jangankan untuk memasukinya
sekadar mengetuk saja lelaki itu tak berani

coba kau tanyakan
pasti pagar besi depan rumahmu
hanya tersenyum
seperti senyum seorang pria tua
yang mendapati putranya sedang
mengenal cinta





Karena Aku Karnamu

suatu hal paling kubenci
ketika aku harus menjawab atau
bercerita tentang Batara Surya
seperti apa kebiasaannya?
menegur pagi dengan keramahan sahaja?
apa yang tak kusuka darinya?
apakah aku mirip dengannya?
pernahkah aku ditepuk pundakku sembari berkata
“kau harus menjadi kesatria bijaksana!” atau
sekadar mengusap peluhku atas rona kewibaannya?

mengapa pertanyaan sesederhana itu
begitu menyiksa batinku yang kemarau?
mengapa pula garis Hyang Widi terasa
ranum blimbing wuluh?

Betara Surya beri aku petuahmu
agar aku mampu menjawab pertanyaan konyol itu!!
beri aku cerita yang bisa kubanggakan kepada mereka saat aku terjatuh
ketika kali pertama mengendarai kereta bersamamu!
beri aku mantra penangkal kutukan Parasurama
agar aku mampu menghindari Pasupati!
atau beri aku zirah keagunganmu
agar aku menjadi kesatria sejati!
Betara surya, sekali lagi aku meneguk ranum blimbing wuluh!




Ikrar Kami

kami adalah orang-orang yang terseleksi
kumpulan dari yang tersakiti
hingga yang mencari kepuasaan hati
jangan salahkan kami
bila kami mencintai lebih dari satu jiwa
bukan maksud kami menduakan hati
tapi satu tujuan kami
mencari cinta sejati



Puisi pertama aku tujukan kepada seseorang yang selama dua tahun belakang membuat aku insomnia akut. Sajak yang kedua adalah jeritan hatiku yang menyimpan sekam dalam genggam. Nahh…Ikrar Kami aku tujukan kepada teman-teman SMA, sekadar nostalgia bahwa dulu aku pernah jadi pelindung para “buaya”.


Menurutku, yang paling seru adalah bagian otobiografi dari masing-masing mahasiswa. Di bagian ini setiap dari kami sedikit menceritakan siapa sebenarnya kami. Ada yang bercerita bahwa dia berasal dari kota ledre tetapi tidak suka ledre dan sangat membenci kentang serta semua makanan yang berbahan kentang, ada yang curhat mengenai hiruk pikuk kehidupan keluarganya, pamer kalau tidur tidak pernah ngiler, menulis otobiografinya malah seperti format biodata melamar pekerjaan ngubeg-ngubeg kandang panda, punya hobi, sleeping, jumping, rolling, mancing, maling, nungging, balapan motor liar atau berkeliaran dari kost satu ke kost yang lain, ada yang kebingungan tentang jati dirinya selama ini, kekurangan motivasi untuk berkuliah karena kebanyakan suting, serta kebiasaan-kebiasaan tidak wajar lainnya. Sedang aku sendiri justru bercerita tentang pengalaman memakan bangku sekolah secara brutal.

Kami hanya sekadar bercerita lewat bentuk sastra. Tentang bagian hitam dari kami. Tentang rahasia kecil kehidupan dengan Tuhan. Tentang mimpi-mimpi kami selama ini. Karya sastra, selalu memberikan keindahan baru bagi penikmatnya. Sastra dalam perkembangannya selalu diharapkan memberikan “oksigen-oksigen” yang dibutuhkan dalam kehidupan, untuk manusia dapat mengungkapkan emosi, kreasi, dan mimpi melalui seni, sastra, ataupun puisi. Setelah merenung dengan sakral dan sarat akan intuisi, inilah produk pertama kelas Pendidikan Reguler 2009 (PA ’09) Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Unesa yang berupa buku antologi puisi dengan judul “Sajak-sajak SEMPRUL pada 23:59”. Sebanyak 37 mahasiswa dikali 3 sama dengan 111 karya sastra puisi. Waow, sebuah angka tiga digit penuh makna sebagai hasil kerja. Ya, kami hanya mencoba sekadar memperindah lorong-lorong sastra dan membuat hidup lebih bijaksana. Terima kasih Tuhan, telah memberi karunia berupa “paket” keluarga dengan warna berbeda-beda. Semoga bermanfaat bagi Indonesia kita.
 
 nb:kalau kalian menemukan buku dengan sampul seperti gambar disamping di toko buku atau secara tidak sengaja (lebih tepatnya, sial) menemukannya di perpustakaan, jangan lupa lihat potoku, pake baju putih terus mangap mirip iklan obat pembasmi hama. Pokoknya yang tampan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

apa ya?