Pernah mengalami jatuh cinta diam-diam? Perasaan afeksi yang dilakukan sudut pandang pertama tanpa respon dari pihak kedua. Perasaan yang teramat dalam tanpa harus diungkapkan. Sangat dalam hingga
untuk mengukurnya perlu menggunakan sonar atau radar deteksi kedalaman lautan.
Satu hal yang tidak bisa dilupakan adalah ketika proses pendekatan. Proses ini berlangsung lama dan tentunya tanpa sepengetahuan pihak kedua. Setiap usaha yang dilakukan begitu tulus sekadar untuk mendapatkaan perhatian. Misal, mentraktir dia (perempuan, baik, cantik, sangat cantik) dua potong ice cream rasa cokelat saat dalam kondisi terpuruk. Tetapi pastikan terlebih dahulu bahwa dia tidak alergi makan cokelat, kalau sampai hal ini tidak diketahui, sama saja memberi tiket kematian secara cuma-cuma. Bukan ucapan terima kasih yang didapat dari dia melainkan dua potong ice cream menempel di jidat yang membuat hati belepotan tak karuan.
Lama-lama perasaan itu terpendam, terpendam dan terpendam seiring berjalannya waktu kemudian perlahan samar tetapi belum tentu manghilang. Menimbulkan sensasi yang tak terlupakan. Di saat seperti ini, aku justru ingat, saat bagaimana mengenalnya kali pertama di kelompok delapan, menikmati pensi di joglo berdampingan, tugas mata kuliah fonologi bahasa osing, tiap khotbah jumat yang biasa tertidur malah benar-benar memperhatikan lalu dengan sengaja terkirimkan lewat pesan, tiap naik kendaraan memperhatikan yang dibalik jendela, pertemuan di kost yang pagar besinya bertuliskan 38, menunggu di depan yang pada akhirnya dia tidak kunjung tiba, menikmati satu menit bersama, pengejaran ke Jember padahal niat awal pulang ke Madiun, rasa jengkel di gerbong itu, kereta yang sama dengan bulan yang berbeda, pertemuan di asrama teriringi “Cinta ini Membunuhku” milik D’masiv, permen lollipop dan Surat Kecil untuk Tuhan, “Kepada Cinta” (bukan “Surat Kereta”), karokean nostalgia Westlife, pertemuan tidak sengaja di gedung pertunjukan.
Pendekatan..
Penantian..
Pengejaran..
Ketulusan...
Justru di saat seperti ini aku begitu ingat tentang perasaan, tentang mimpi, tentang doa, tentangnya.
Kalau saja salah satu tidak hadir di gedung pertunjukan, bukan lagu Westlife yang dinyanyikan tetapi SM*SH, bukan lolipop dan Surat Kecil untuk Tuhan melainkan ucapan selamat ulang tahun lewat pesan, bukan “Kepada Cinta” tetapi “hatiku tertinggal di kereta”, atau lagu ada band yang mengiringi pertemuan di asrama, kalau saja bulan tertutup awan dan tak terlihat dari kereta, bukan Sri Tanjung tetapi Legawa, atau tak perlu mengejar ke Jember melainkan tetap pulang ke Madiun, kalau saja dia keluar dan bilang, “maaf, saya tidak bisa diganggu” atau bukan angka 38 tetapi 39 sekalian 02 yang tertera di pagar besi depan kostnya, kalau saja tak perlu memperhatikan di balik jendela atau memilih tidur disetiap khotbah jumat, dan bukan bahasa osing yang kuteliti melainkan bahasa sunda, kalau saja di joglo menikmati pensi tak berdampingan, atau memang sejak awal tidak pernah di kelompok delapan, apakah semesta alam tetap akan mempertemukan?
Dan setelah sekian lama berusaha, jatuh cinta diam-diam hanya menyisakan satu pertanyaan yang tidak pernah terjawab, “Apakah dia memiliki perasaan yang sama?”
Orang yang jatuh cinta diam-diam pada akhirnya hanya bisa, yang selama ini mereka lakukan, jatuh cinta sendirian.*
(aku tulis postingan ini untuk mewakili hati yang tak diizinkan singgah walau sementara waktu).
* diadaptasi dari kalimat terakhir jatuh cinta diam-diam, Marmut Merah Jambu, Raditya Dika.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
apa ya?