Cinta pertama. Iya, sebuah perasaan mengenal seseorang dengan tingkat emosi, kesadaran diri, denyut nadi serta frekuensi mangap terlampau tinggi. Keadaan inilah terkadang membuat rindu dan ingin mengulang waktu yang pernah terlewati. Hampir setiap orang memiliki keajiban rasa itu. Sekalipun orang tersebut medeklarasikan sebagai homo.
Jujur saja pasti kita semua yang bernama manusia, baik berkumis, berjambang, botak, hingga yang tidak memiliki bulu ketiak, masih memiliki perasaan yang sama meski takarannya, jauh, berbeda. Tak perlu dihindari ataupun sok munafik, bilang, tidak pernah mengingat atau mengenalnya. Karena perasaan ini, pada akhirnya, tidak pernah hilang.
Berawal dari melihat kemudian bertanya pada teman, pulang, memasang etalase wajahnya di atap kamar. (terlalu simple?) berawal dari pertemanan biasa, sering nimbrung bersama, dibumbui sedikit perhatian maka rasa itu timbul dengan mudahnya. Dan memang simple tidak rumit tetapi membuat susah tidur. Hal ini berbanding terbalik untuk memeroleh perhatiannya. Begitu sulit dan menyita usaha yang relative besar. Dan uniknya meski tidak selalu bersama ,meski sesaat, rasa itu selalu berujung pada kehilangan. Misalnya saja Mashu temen sebangku saat SMA. Dia memiliki rasa itu sama Arfie. Sebenarnya Arfie pun tahu akan perasaan yang dimiliki Mashu. Tetapi entah mengapa keduanya seakan-akan menjaga jarak dan berusaha menahan gejolak batin yang mereka alami. Alhasil, disetiap cerita Mashu selalu saja menyelipkan nama Arfie berharap Arfie mendengarnya. Iya, hanya mendengarnya. Namun mimpi itu memang hanya mimpi. Arfie jadian dengan cowok lain dan Mashu hanya mampu menangis dikamar mandi mengetahui hal tersebut. Tragisnya, setelah sekian lama berlalu, Mashu masih menyimpan foto Arfie di HP-nya dan setiap malam dipandanginya berharap ditidurnya bisa bergandengan tangan dengan Arfie. (menghela nafas).
Mungkin aku (sedikit) lebih beruntung daripada Mashu. Aku sempat bersama dengan cinta pertamaku. Tetapi ending-nya TETAP SAMA. Berpisah. Dan seolah-olah dikehidupan ini tidak pernah ada cinta diantara kami berdua.
Lucunya saat benar-benar lupa tidak sekilaspun ingat panjang rambutnya yang sebahu. Kalau benar-benar sibuk tidak bisa meluangkan waktu sekadar mengingatkannya untuk segera makan. Tapi kalau pas ingat (dan sialnya timing-nya benar-benar pas banget)
hanya melihat nama di-facebook saja membuat hati teriris-iris.
Hanya melihat foto-fotonya mampu menghabiskan persediaan tissue toilet.
Hanya dengan mendengarkan lagu (nyambung nggak nyambung) terasa kendang telinga keluar air berlebih.
Hanya dengan membaca status-statusnya yang banyak (yang menandakan dia baik-baik saja) sudah membuat hati tenang.
Tidak tahu mengapa, justru disaat-saat seperti ini paling nyaman. Dimana rasa sakit dan bahagia terasa bersamaan. Luka dan obat merah melebur jadi satu yang berusaha diusap dengan tissue diringi lagu-lagu di playlist HP yang suaranya kenceng, seakan-akan kata-kata lagu itu merobek luka semakin dalam dan tidak bisa melakukan apa-apa selain menikmati kenangannya. Memang bukan hal besar untuk menghilangkan bagian rasa yang terlalu dalam itu. Tapi butuh kedalaman rasa untuk mengutuhkan kembali bagian besar yang hilang.
Simpelnya kalau “rasa” itu bewujud mungkin sudah kuinjak-injak dengan ikhlas.
curhat ..
BalasHapusheum..perih...
BalasHapuscinta pertamaku begitu indah namun juga menyiksa
BalasHapusbutuh tisue toilet....
BalasHapusdefinitely good....emmmm....cinta pertama ya??? the one on the sweetest moment that i've ever had....
BalasHapuscurcol... tp kau bruntung bsa brsma dngan cnta prtamamu.
BalasHapusgue komen ya broo..
BalasHapuscoba minum racun coro, kyae bisa mendatangkan pujaan hati lu tuh
(entah itu datang pas kamu sekarat atau udah pas melayat)
haaaaaaaaaaaaa
dagelan coro: emang aku sejenis serangga pemakan marmut?????
BalasHapussuket teki
inget masa" SMA...hehe....
BalasHapusu cocok jadi penulis...Sep..
penulis apa ull??
BalasHapuspenulis pria yang kehilangan jati diri????